Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ada cerita tentang elang di balik krisis diplomatik Qatar

Ada cerita tentang elang di balik krisis diplomatik Qatar berburu dengan elang. ©qatarisbooming

Merdeka.com - Negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Yaman, Libya, memutus hubungan diplomatik dengan Qatar atas alasan negara itu mendukung terorisme seperti Negara Islam Irak dan Syam (ISIS), Al Qaidah, dan Ikhwanul Muslimin yang selama ini dianggap sebagai musuh politik di kawasan.

Namun, ada cerita lain di balik putusnya hubungan diplomatik di Timur Tengah itu. Doha dilaporkan memang membayar kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaidah dan Iran, namun uang sebesar USD 1 miliar tersebut digunakan sebagai tebusan untuk anggota keluarga kerajaan yang disandera.

"Qatar diberitakan membayar uang sebesar itu untuk membebaskan anggota keluarga kerajaannya yang diculik saat sedang berburu di Irak," demikian pernyataan dikeluarkan orang yang terlibat dalam kesepakatan penyanderaan, seperti dilansir dari laman Financial Times, Selasa (6/6).

Hal itu menjadi salah satu pemicu di balik keputusan negara-negara Teluk Arab untuk memutuskan hubungan dengan Doha. Tidak hanya hubungan diplomatik, tetapi juga hubungan transportasi. Bahkan warga negara Qatar dan para diplomat diimbau agar segera meninggalkan negara-negara itu.

Sejumlah pentolan kelompok militan dan pejabat pemerintah di Teluk mengatakan kepada Financial Times, Doha membayar uang itu untuk membebaskan 26 peserta berburu dengan elang di selatan Irak dan 50 anggota militan yang ditawan jihadis di Suriah.

Kesepakatan pembebasan sandera yang dibuat April lalu itu menimbulkan kekhawatiran terhadap negara-negara tetangga Qatar. Negara Teluk menuding Qatar sebagai negara yang menyokong terorisme dan ekstremisme.

Sejak negara-negara Teluk memutus hubungan mereka dengan Qatar, pihak Doha langsung membantah telah mendukung kelompok teroris dan menentang blokade dari negara tetangganya.

"Tuduhan itu bukan yang sebenarnya dan sama sekali tidak berdasar," demikian pernyataan pihak Qatar.

Bahkan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed Bin Abdulrahman Al Thani menyebutkan blokade dari negara-negara tetangga dilakukan lantaran berita palsu yang dibuat Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

"Hal ini menunjukkan bahwa media (didanai Saudi dan Uni Emirat Arab) membuat berita palsu dan kebohongan untuk menyerang Qatar," serunya dilansir dari Aljazeera.

Dia menyatakan pada Selasa (30/5) pekan lalu, peretas secara sengaja mempublikasikan ucapan palsu Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani di saluran televisi QNA. Siaran itu berisikan pernyataan Sheikh Tamim mendukung Iran serta organisasi terlarang seperti Hamas dan Hizbullah.

Peretas juga memalsukan pernyataan menyebutkan Sheikh Tamim mendukung Israel dan menganggap Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak akan berkuasa lama. Pemerintah Qatar tentu saja membantah pernyataan itu.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP