Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

1700 Orang Jadi Korban Konflik di Afghanistan dalam Sebulan

1700 Orang Jadi Korban Konflik di Afghanistan dalam Sebulan bom bunuh diri di afghanistan. ©REUTERS/Parwiz

Merdeka.com - Sepanjang bulan Januari lalu lebih dari 1.700 orang jadi korban konflik di Afghanistan.

Menurut catatan kantor berita Anadolu, lebih dari 900 orang tewas dan dan 800 lainnya luka di seantero Afghanistan akibat serangan teroris dan operasi keamanan.

Korban itu termasuk militan, tentara Afghanistan dan tentara asing, serta warga sipil.

Menurut Ketua Dewan setempat, Muhammad Rahmani, pada Malam Tahun Baru lalu, kelompok militan Taliban menyerang Distrik Sayaad di sebelah utara Provinsi Sa-i-Pul, menewaskan sedikitnya 20 tentara dan melukai 20 lainnya.

Peristiwa itu terjadi di tengah upaya Amerika Serikat mengadakan perundingan dengan Taliban untuk mengakhiri perang yang kini sudah memasuki tahun ke-18. Pejabat perwakilan AS untuk rekonsiliasi Afghanistan Zalmay Khalilzad sebulan sebelumnya bertemu perwakilan Taliban buat pertama kali di Uni Emirat Arab.

Dikutip dari laman Anadolu, Senin (4/2), militer Afghanistan baru-baru ini menerapkan pendekatan lebih keras dengan menunjuk dua pejabat mantan intelijen, Asadullah Khalid dan Amrullah Saleh, sebagai menteri pertahanan dan menteri dalam negeri. Meski Saleh kemudian mengundurkan diri karena maju sebagai calon wakil presiden, Khalid terus melanjutkan operasi untuk menumpas pemberontak di kawasan konflik paling panas, seperti Provinsi Helmand di Afghanistan selatan.

Serangan paling mematikan bagi warga sipil terjadi di Distrik Sangin, Provinsi Helmand, wilayah yang dikuasai Taliban. Sedikitnya 16 orang tewas akibat serangan udara militer AS pada 25 januari lalu.

Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss dua pekan lalu, Presiden Ashraf Ghani mengatakan sedikitnya 45.000 tentara tewas sejak 2014.

Sejumlah mantan pejabat Afghanistan dijadwalkan bertemu dengan para petinggi Taliban di Moskow, Rusia, pekan ini.

Ishaq Atmar, pengamat politik dan keamanan, mengatakan Moskow kini ingin ikut berperan di Afghanistan.

"Kalau Rusia menanggapi peran AS di Afghanistan dengan cara agresif maka cepat atau lambat kita akan melihat kondisi yang lebih tak terduga," kata dia.

Perwakilan AS dan Taliban sudah mencapai kesepakatan dalam dua hal: penarikan pasukan asing dan mengurangi serangan teror di Afghanistan.

Namun pernyataan teranyar dari juru runding Taliban Sher Muhammad Abbas Stanekzai kian menunjukkan ketidakpastian soal apakah kesepakatan damai itu sudah tercapai.

Dalam wawancara yang direkam video, Stanekzai mengatakan Taliban tidak mengakui pemerintahan Afghanistan dan mendesak militer Afghan dibubarkan setelah kesepakatan damai.

"Tentara ini dibikin oleh Amerika. Ketika Amerika sudah keluar maka mereka akan habis dengan sendirinya," kata dia.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP