YLKI Nilai Skema Cicilan Uang Muka Kendaraan Memiskinkan Konsumen

Selasa, 14 Januari 2020 16:20 Reporter : Dwi Aditya Putra
YLKI Nilai Skema Cicilan Uang Muka Kendaraan Memiskinkan Konsumen Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi. ©2019 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat sepanjang 2019 total aduan diterima terkait leasing sebanyak 31 kasus. Dari total aduan tersebut, masalah kredit macet menjadi paling banyak diadukan yakni sebanyak 25 persen.

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, mengungkapkan penyebab terjadinya kredit macet dikarenakan adanya permainan perusahaan leasing dalam memberikan uang muka kendaraan. Salah satunya dengan cara memberikan cicilan terhadap uang muka.

Di samping membayar cicilan uang muka, konsumen dibebankan juga dengan cicilan pokok setiap bulannya. "Uang muka dicicil, kemudian dia mencicil uang bulanannya juga ini menjadi kredit macet 25 persen. Leasing sepeda motor menjadi kemiskinan di rakyat miskin dengan iming-iming lain. Upaya pemerintah melindungi uang muka di lapangan tidak terlaksana," jelas dia di Kantornya, Jakarta, Selasa (14/1).

Di sisi lain, Tulus menambahkan perusahaan leasing juga kerap bermain dalam menarik minat konsumen melalui pemberian cash back. Secara regulasi pemberian uang muka dilakukan leasing untuk kendaraan roda dua dan empat yakni sebesar 20-30 persen dari harga jual kendaraan.

"Tapi mereka tetap memberikan 20-30 persen akan tetapi kemudian diakali dengan cara memberikan cash back. Kalau sepeda motor uang muka cuma Rp2 juta kemudian cash backnya Rp2 juta kan jadi nol," kata Tulus.

1 dari 1 halaman

YLKI Terima 1.871 Aduan Sepanjang 2019, Terbanyak Soal Perbankan

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat total pengaduan sepanjang 2019 mencapai sebanyak 1.871. Adapun dari total pengaduan tersebut sebanyak 1.308 dilakukan secara berkelompok atau kolektif dan sisanya 563 dilakukan secara individu.

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, mengatakan dari total sebanyak 1871 pengaduan individu terbanyak masuk perihal perbankan yakni mencapai 106 kasus. Kemudian disusul dengan pinjaman online sebanyak 96 kasus.

Di samping itu, jenis pengaduan lain datang dari sektor perumahan mencapai 81 kasus. Ada juga belanja online 34 kasus, leasing 32 kasus, dan transportasi 26 kasus.

"Pengaduan konsumen produk jasa finansial akan sangat dominan, yakni 46,9 persen yang meliputi 5 komoditas yakni, bank, uang elektronik, asuransi, easing, dan pinjaman online," katanya dalam konferensi pers di Kantor YLKI, Jakarta, Selasa (14/1).

[bim]

Baca juga:
YLKI Catat Kasus Meikarta Menjadi Aduan Terbanyak di Sektor Perumahan
YLKI Dukung Larangan Penggunaan Kantong Plastik di Jakarta
YLKI Soal Jiwasraya: Buat Apa Ada Pansus Kalau Uang Nasabah Tak Kembali
YLKI Terima 1.871 Aduan Sepanjang 2019, Terbanyak Soal Perbankan
Saran YLKI: Penanganan Kasus Jiwasraya Harus Difokuskan Agar Uang Nasabah Kembali
YLKI Nilai Kecelakaan Bus di Pagar Alam Tragedi, Desak Pemerintah Evaluasi Uji KIR
YLKI Nilai Tol Layang Jakarta-Cikampek Gagal Atasi Kemacetan Saat Libur Panjang

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini