YLKI Nilai Penghapusan Tiket Harian di 10 Stasiun KRL Memberatkan Konsumen

Senin, 22 Maret 2021 11:41 Reporter : Siti Nur Azzura
YLKI Nilai Penghapusan Tiket Harian di 10 Stasiun KRL Memberatkan Konsumen KRL. ©2012 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - PT Commuter Line Indonesia (KCI) akan mewajibkan tiket Kartu Multi Trip (KMT) di 10 stasiun di Jabodetabek mulai Kamis (25/3), yaitu di stasiun Bojonggede, Citayam, Depok Baru, Depok, Kranji, Bekasi, Jakarta Kota, Tanang Abang, Angke dan Parung Panjang. Dengan pemberlakuan ini, artinya tiket harian tidak berlaku lagi di stasiun tersebut.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tullus Abadi, mengatakan, dalam perspektif hak-hak konsumen sebagai pengguna KRL kebijkan ini tidak adil, karena memberatkan konsumen. Sebab dengan mewajibkan KMT, maka konsumen dengan tiket harian harus mengeluarkan uang minimal Rp 30.000 untuk beli KMT.

"Sementara masih banyak pengguna lepas KRL, yang tidak membutuhkan KMT, karena hanya sekali-kali saja menggunkan KRL," kata Tulus melalui pesan singkat, Jakarta, Senin (22/3).

Oleh karena itu YLKI dan komunitas KRL Mania menolak kebijakan tersebut, dan meminta dengan sangat agar managemen KCI tetap memberlakukan tiket yang berlaku jangka pendek/tiket harian. Oleh karena itu, harus ada effort dari operator untuk menyediakan uang kembalian sebagai antisipasi pengguna yang menarik sisa dana.

"Tidak hanya konsumen sebagai pengguna yang harus adaptif. Tapi operator pun mesti solutif dan adaptif. Bukan hanya melihat dari sisi kemudahan operator tapi mengabaikan sisi konsumen sebagai pengguna," imbuhnya.

Menurutnya, di negara-negara yang memiliki sistem yang sudah lebih baik masih menyediakan tiket harian. Misalnya di Singapura, untuk tiket MRT bisa memilih tiket jangka pendek yang berlaku beberapa hari saja. Sedangkan tiket kertas, bisa diisi ulang, dan dana bisa direfund.

Selain itu, Tulus menilai harga kartu KMT Rp 30.00 dan harga jaminan THB Rp10.000 masih terlalu mahal, jika dibandingkan dengan Singapura. "Padahal harga asli kartu KMT dan THB tidak semahal itu. Hal ini patut diduga KCI sengaja mendapatkan penghasilan dari jualan kartu, padahal core business nya adalah menjual jasa transportasi. Tidak etis jika menangguk pendapatan dari dengan bisnis kartu," katanya.

Dia menilai, PT KCI tetap harus mempertimbangkan penumpang KRL yang bukan pengguna rutin, sehingga lebih membutuhkan tiket harian. Tak hanya itu, PT KCI juga harus mempertimbangkan soal daya beli konsumen yang hanya mampu beli tiket harian. [azz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini