Wawancara Dirut Pos Indonesia: Strategi Perseroan Bertahan di Era Disrupsi Digital

Kamis, 4 Juli 2019 06:00 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Wawancara Dirut Pos Indonesia: Strategi Perseroan Bertahan di Era Disrupsi Digital Dirut PT Pos Indonesia Gilarsi W. Setijono. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Tempora mutantur et nos mutamur in illis, waktu berubah dan kita pun turut berubah di dalamnya. Adagium Latin ini sudah selaiknya dipakai untuk menggambarkan dunia akhir-akhir ini.

Perkembangan teknologi digital, mengubah berbagai aspek dalam kehidupan, baik pola perilaku, berpikir, hingga bisnis atau dengan kata lain mendorong terjadinya disrupsi. Di sisi bisnis perubahan era digital mendorong perubahan dalam cara orang berbisnis. Sebab, jika tidak, tentu bakal tergerus oleh arus perubahan yang cepat dan ditinggalkan.

Hal ini diakui oleh Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Gilarsi Wahyu Setijono. Dia mengatakan bahwa di tengah perubahan zaman yang kian pesat, transformasi Pos Indonesia menjadi suatu keniscayaan. "Pos itu di dunia adalah industri yang mengalami disrupsi yang luar biasa masifnya," kata dia dalam wawancara khusus dengan merdeka.com, di Kantornya, Jakarta, Rabu (3/7).

Menurut dia, disrupsi bukanlah hal yang baru bagi perusahaan yang lahir pada 26 Agustus 1747 ini. Sepanjang kiprahnya selama 272 tahun di Indonesia, Pos Indonesia telah mengalami cukup banyak perubahan dalam dirinya. "(Dulu) Pos harus hadir untuk kepentingan pemerintah maupun masyarakat meng-connect informasi, pengiriman uang, dan barang," ujar dia.

Seiring dengan berjalannya waktu tugas-tugas Pos itu mulai diambil alih oleh lembaga lain. Salah satunya fungsi mengirim dan menyimpan uang oleh industri perbankan.

"Pengiriman uang didisrupsi dengan kelahiran perbankan, kemudian ini ambil alih peran pos dalam konteks uang. Tentu bank punya fungsi yang lebih luas, simpan dan pinjam. Kalau pos untuk taruh, transfer, dan lakukan pembayaran. Lahir kemudian Telkom dulu kan Pos dulu ada namanya PTT, Pos Telepon Telegram. Mulai disrupsi," jelas Gilarsi.

Kemudian era digital yang diawali dengan masuknya internet turut menggerus fungsi Pos, khususnya pengiriman surat. Internet menginisiasi pola baru dalam berkomunikasi. Berbagai layanan komunikasi internet, seperti email ditambah lahirnya berbagai aplikasi digital menggeser pola komunikasi lama. Surat pun mulai ditinggalkan.

"Platform mobile keluar, internet ada di genggaman tangan orang. Itu yang membuat kebutuhan orang terhadap surat menjadi minimal. Ngapain pakai surat. Dokumen sudah bisa lewat email, dokumen legal lewat elektronik ada digital signature juga kan," ungkapnya.

"Ujung-ujungnya kita bisa bayangkan kalau pos hanya tersisa di suratnya maka ini ya hilang. Just a matter of time, suatu ketika manusia akan hidup paperless. Sehingga kebutuhan terhadap physical kurir Pos itu jadi tidak lagi dibutuh," imbuhnya.

Namun, tegas dia, bukan berarti Pos Indonesia kehilangan harapan. Sebab, ada hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, yaitu pengiriman barang. "Yang dibutuhkan (pengiriman) barang. Karena barang belum ada teknologi yang bisa menggantikan fungsi pengiriman. Sekarang kebutuhan masyarakat sekarang, apalagi internet masuk, muncul e-commerce, market place itu kan masyarakat kita diberi pilihan yang jauh lebih baik," tegas dia.

Pria yang akrab disapa Gil ini mengatakan hal inilah yang kemudian mendorong insan Pos Indonesia untuk berbenah, bertransformasi dari layanan jasa pengiriman surat menjadi kurir barang atau parsel. Industri e-commerce yang sedang menggeliat dilihat sebagai peluang bagi Pos Indonesia untuk masuk dan menampilkan wajah serta arah bisnis baru di Tanah Air.

Dia mengatakan, industri e-commerce sesungguhnya disokong oleh tiga pilar utama, yakni market place, jasa logistik, dan pembayaran. Dua pilar terakhir lah yang sedang dibidik oleh Pos Indonesia. Berbekal pengalaman Pos sebagai 'leluhur' jasa logistik dan transaksi keuangan, dia yakin transformasi ke arah itu dapat berjalan.

"Kalau lihat ini, pos ini kan ngerti duit, karena kita punya wesel, punya giro. Jadi kita tinggal memodernkan ini supaya relevan. Sementara surat kita transform dari dulunya kurir surat menjadi kurir barang."

"Idealnya Pos Indonesia menjadi pemain yang men-support e-commerce dengan memainkan dua pilar ini kurir logistik sama pembayaran. Kalau market place biar orang lain lah. biarkan mereka main," tandasnya. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini