Waspada Resesi, CEO Perusahaan di Asia Pasifik Bersiap Kurangi Jumlah Karyawan

Rabu, 5 Oktober 2022 17:17 Reporter : Yunita Amalia
Waspada Resesi, CEO Perusahaan di Asia Pasifik Bersiap Kurangi Jumlah Karyawan Ilustrasi bekerja. ©2018 Merdeka.com/Pixabay

Merdeka.com - Ancaman resesi membuat sejumlah Chief Executive Officer (CEO) perusahaan Asia Pasifik dan global tidak merekrut karyawan baru. Di tingkat lebih ekstrem, perusahaan bahkan akan mengurangi jumlah karyawan.

"Secara global dan di Asia-Pasifik, sekitar 20 persen mengatakan mereka tidak akan memperluas perekrutan dalam tiga tahun ke depan dan akan mempertahankan jumlah karyawan mereka atau menguranginya lebih jauh," demikian laporan KPMG, firma global dengan kompetensi audit, perpajakan, dan keuangan, dikutip melalui CNBC, Rabu (5/10).

Dalam survei KPMG, yang dilakukan selama periode Juli - Agustus terhadap 1.300 pemimpin perusahaan, mayoritas dari mereka bahkan menyatakan disrupsi ekonomi pada tahun-tahun depan semakin menyulitkan untuk rebound dari pandemi Covid-19.

Sementara di Asia-Pasifik, jumlah pemimpin perusahaan yang meyakini terjadinya resesi sedikit. Tetapi, mereka tidak menaruh optimis terhadap pertumbuhan ekonomi dalam tiga tahun ke depan dibandingkan dengan rekan-rekan global mereka.

Bahkan di Singapura, saat survei dilakukan, hampir 90 persen pemimpin perusahaan yang disurvei memulai untuk tidak merekrut karyawan. Langkah ini diperkirakan terjadi selama enam bulan ke depan.

"Hampir semua dari mereka mengambil atau merencanakan diversifikasi dalam rantai pasokan mereka," tulis laporan tersebut.

Namun selama tiga tahun ke depan, hampir semua pemimpin perusahaan Singapura yang disurvei mengatakan mereka akan meningkatkan jumlah karyawan hingga 10 persen.

"Hampir sepertiga CEO Singapura mengatakan prioritas operasional utama mereka selama tiga tahun ke depan adalah memperkuat proposisi nilai karyawan mereka untuk menarik dan mempertahankan talenta yang diperlukan."

2 dari 2 halaman

Prabowo: Krisis ke Depan Lebih Parah

Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto angkat suara mengenai krisis yang dihadapi dunia. Menurutnya, krisis dunia ke depan bisa lebih parah atau disebut the perfect storm.

"Kita menghadapi krisis, ramalan dari seluruh dunia krisis ke depan bisa lebih parah ya. mereka sebut the perfect storm akan datang. The perfect storm, badai akan datang. Jadi kita harus siap," kata Prabowo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/10).

Prabowo sudah mengkaji sejumlah hal untuk mengantisipasi krisis dunia ke depan. Dia memerintahkan akademisi untuk mencari sumber-sumber air maupun teknologi yang dibutuhkan.

"Kita waspada tahun depan, jadi sekarang kita melaksanakan kajian-kajian dan penyelidikan. kita cari sumber-sumber air, di mana-mana dan juga teknologi air kita sudah perintahkan kalangan Unhan untuk membuat, bekerja untuk mencari sumber-sumber air di mana-mana di seluruh provinsi, seluruh daerah menghadapi, siapa tahu perubahan iklim dunia tahun depan dan seterusnya akan kurang baik untuk kita," tuturnya.

Namun demikian, Prabowo pun bersyukur Indonesia saat ini masih memiliki sumber daya alam yang baik. Curah hujan di tanah air juga masih bagus.

"Kita harus bersyukur, kita bersyukur, Tuhan yang maha kuasa memberi kita banyak sumber-sumber alam, kita curah hujan masih bagus seperti sekarang," pungkasnya. [idr]

Baca juga:
Hadapi Resesi Global, Menparekraf Sandiaga Uno Berharap pada Wisatawan Nusantara
Puan Maharani: Waspada Resesi Ekonomi Berdampak Penurunan Kesejahteraan Masyarakat
Deretan Negara Rasakan Gejala Resesi Ekonomi, Termasuk Harga Makanan Naik Tajam
Airlangga Optimis Ekonomi RI Tahun Depan Tetap Positif di Tengah Ancaman Resesi
Prabowo: Krisis Dunia ke Depan Lebih Parah, Mereka Sebut Perfect Storm

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini