Waspada Krisis Dampak Bisnis Start Up Bakar Uang

Kamis, 28 November 2019 16:19 Reporter : Idris Rusadi Putra
Waspada Krisis Dampak Bisnis Start Up Bakar Uang ilustrasi fintech. ©2018 thenextweb.com

Merdeka.com - Hampir semua negara saat ini bereforia untuk mendorong para pebisnis start up semakin berkibar. Namun, kabar mengejutkan datang dari dunia bisnis digital yang selama ini dianggap sebagai lokomotif ekonomi terdepan dalam era Industri 4.0.

Perusahaan start-up WeWork dengan bisnis utama berbagi ruang kerja dikabarkan terancam bangkrut dan akan mem-PHK 4.000 karyawannya.

Mengutip New York Times, tidak kurang dari USD 1,25 miliar menjadi angka kerugian yang diderita oleh WeWork yang selama ini menyandang predikat decacorn dengan nilai valuasi lebih dari USD 10 miliar.

Ironi WeWork tak berhenti hingga di titik itu, perusahaan start up yang berbasis di New York Amerika Serikat itu harus menelan kenyataan pahit terjun bebasnya nilai valuasi perusahaan. Valuasi WeWork semula mencapai USD 50 miliar menjadi hanya kurang dari USD 5 miliar.

Kejutan belum selesai, Softbank Group raksasa investasi dari Jepang yang juga sebagai investor utama dari WeWork dan Uber menyatakan diri merugi sampai Rp 100 triliun akibat anjloknya nilai valuasi Uber dan WeWork.

Selain menderita kerugian mencapai USD 5 miliar, Uber sang pionir taksi online berpredikat hectocorn itupun mengalami nilai valuasi anjlok menjadi kurang dari USD 50 miliar pada kuartal II tahun 2019.

"Ada masalah dengan penilaian saya, itu yang harus direnungkan," kata CEO Softbank Group Masayoshi Son seperti dikutip Antara dari Bloomberg di Jakarta.

Mendapati kenyataan pahit dunia start up yang menimpa WeWork dan Uber membuat publik kaget dan tak berpikir mengapa Uber yang selama ini menjadi legenda dunia start up merugi demikian besar.

Uber, pionir taksi online sejak 10 tahun lalu bahkan telah beroperasi di 785 kota metropolitan dan 173 negara faktanya kini nilai valuasinya terjun bebas sedemikian drastis.

Kekhawatiran kemudian melanda, ketika Uber saja bisa rontok, bagaimana dengan start up duplikasinya di negara lain termasuk Gojek. Selain itu ketika WeWork pun tumbang, bagaimana Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan OVO di tanah air.

1 dari 2 halaman

Berpotensi Sebabkan Bubble Economy.

Menanggapi fenomena tersebut, Direktur Generasi Optimis Research and Consulting (GORC) Frans Meroga Panggabean mengatakan bisnis start-up memiliki celah kegagalan cukup besar serta berpotensi menyebabkan bubble economy.

"Dalam pandangan saya, fenomena gelembung spekulatif dalam bisnis start-up ini mulai muncul. Tinggal tunggu gelembungnya meletus," kata Frans.

Dalam riset Generasi Optimis Research & Consulting (GORC) terungkap bahwa gejala latah bisnis digital kali ini hampir sama seperti yang terjadi pada 2000. Kala itu muncul fenomena yaitu banyak perusahaan internet yang sempat mempunyai nilai triliunan berakhir gagal, tanpa nilai sama sekali. Fenomena ini dikenal dengan internet bubble. Pets.com bangkrut, diikuti dengan Boo.com, Webvan, hingga semua saham perusahaan internet turun 75 persen.

Para pemodal ventura sangat mudah memberikan pendanaan saat itu. Sebab, mereka berharap bisa segera balik modal begitu perusahaan itu IPO dan mendapat nilai tinggi.

Dengan derasnya kucuran uang, start up internet ini berlomba untuk menjadi besar dengan instan. Mereka banyak yang melakukan pemborosan untuk promosi, bahkan 90 persen anggaran dipakai untuk iklan agar bisa segera dikenal.

Mereka juga rajin 'bakar uang' menawarkan layanan gratis atau promo diskon dengan harapan bisa segera meraup pasar.

Tingginya antusiasme investor yang sembarang menempatkan uang mereka, membuat para perusahaan internet punya nilai pasar di atas nilai riil mereka.

Persaingan para investor dan spekulasi, mendorong investor membayar saham perusahaan internet jauh lebih tinggi lagi dari nilai fundamental mereka. Contohnya Amazon dengan saham perdana dijual USD 18 dan berakhir dengan nilai USD 100. Perbedaan harga ini yang membuat adanya bubble dan persainganlah yang membuat semakin besar dan akhirnya meledak.

Di Indonesia, Frans menilai kecenderungan penilaian valuasi berlebih bisa terjadi. Karena berdasarkan pengamatannya di lapangan, hingga saat ini belum ada penelitian khusus mengenai valuasi start up.

"Sederhananya kan nilai valuasi itu artinya sebuah nilai maksimal yang menarik bagi investor sehingga mau mengeluarkan uang untuk membeli saham atau investasi dalam sebuah perusahaan, di mana pastinya berharap segera menikmati keuntungan," jelas Direktur Generasi Optimis Research & Consulting (GORC) itu.

"Strategi 'bakar uang' akan terus dilakukan demi tetap eksis dalam persaingan karena pasar hanya loyal terhadap harga dan promo serta diskon. Itu akan selalu menjadi lingkaran setan yang tidak ada habisnya jika sebuah start-up baru berusaha masuk dalam suatu market," katanya.

Pihaknya menyarankan strategi dengan membangun modal sosial yang kuat terlebih dahulu dalam sebuah ekosistem dan bahkan melibatkan semua stakeholder dalam ekosistem tersebut untuk berkomitmen membesarkan usaha yang ada untuk kesejahteraan bersama. Jadi dukungan aplikasi digital hanyalah sebagai enabler dan akselerator setelah modal sosial tertanam dengan kuat antar semua pemangku kepentingan.

"Jadi jangan terbalik, seharusnya aplikasi digital baru dipakai sebagai kemasan untuk membantu dan mempercepat pencapaian tujuan usaha setelah hubungan antar semua peran dalam rantai pasok sudah terjalin dengan solid," Frans Meroga Panggabean yang juga VP Nasari Cooperative Group.

2 dari 2 halaman

Indonesia Perlu Belajar dari Kasus WeWork

Di sisi lain, langkah startup untuk fokus mencari laba dan meningkatkan skala dinilai tepat untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mendorong kinerja keuangan. Startup perlu menghindari kasus WeWork dan belajar dari profesionalisme transisi kepemimpinan Alibaba.

Pengamat ekonomi digital, Heru Sutadi menilai, sangat wajar manajemen startup mengincar laba tahun depan. Karena itu, langkah Bukalapak dan Tokopedia mengedepankan strategi inovasi agar menghasilkan profit, sudah sangat tepat.

"Sekarang semua unicorn arahnya mulai memoles kinerja keuangan, termasuk efisiensi. Tujuannya jelas, akan masuk ke bursa. Sehingga, istilah bakar duit dengan promo segala macam akan dikurangi agar tidak ada lagi pengeluaran besar-besaran dan di sisi lain pemasukan akan semakin besar," ucap Heru.

Startup di Indonesia perlu belajar dari kasus WeWork yang terus menerus membakar uang untuk promosi, sekitar USD 2,8 miliar per tahun, namun kinerjanya tak kunjung positif.

Kata Heru, dari kejadian WeWork, dia melihat Softbank akan belajar banyak untuk pengelolaan startup yang mereka danai. Sehingga, akan ada evaluasi dan penekanan terhadap perusahaan yang didanai agar lebih efisien dan tidak bakar-bakar uang lagi.

"Softbank juga akan mendorong unicorn yang dibiayai untuk mempercepat proses IPO," ujar Heru.

Unicorn Indonesia juga dituntut untuk meniru profesionalisme Alibaba dalam melakukan scale-up, meningkatkan efisiensi, dan menghasilkan keuntungan. Alibaba berhasil melakukan semua ini meskipun baru saja ditinggal pendirinya, Jack Ma.

Teranyar, perusahaan bervaluasi Rp2000 triliun itu telah melakukan pencatatan perdana di bursa saham Hong Kong dan berhasil menghimpun dana sebesar USD 11,3 miliar. Pada hari pertama perdagangannya, harga saham Alibaba melesat lebih dari 6 persen.

Alibaba juga terus menghasilkan pendapatan. Pada kuartal April-Juni 2019, pendapatan Alibaba mencapai 114,92 miliar yuan (USD 16,15 miliar), atau naik 42 persen dari tahun sebelumnya. Ini menjadi bukti bahwa ekosistem Alibaba sudah sangat tangguh.

Apa yang diraih Alibaba, menurut Ekonom Piter Abdullah, karena manajemen Alibaba memiliki visi yang sangat jelas dan kemudian juga dieksekusi dengan sangat baik. Alibaba juga tidak bergantung pada figur, namun pada kepemimpinan manajerial yang profesional.

Seluruh rangkaian keberhasilan manajemen Alibaba ini menciptakan track record yang membuat mereka sangat dipercaya. Kepercayaan ini selanjutnya berpengaruh kepada pihak eksternal yang kemudian meyakini apapun yang dilakukan oleh Alibaba akan berhasil. "Dengan keyakinan itu investor mau berinvestasi di Alibaba," ucap Piter.

Di sisi lain, kata Piter, faktor kepemimpinan selalu berperan dominan di semua organisasi khususnya di sebuah perusahaan. Pemimpin yang baik tidak saja mampu memaksimalkan semua resources organisasi, tapi juga bagaimana dia mempersiapkan sistem agar organisasi menjadi tidak bergantung kepada seorang pemimpin.

"Termasuk juga mempersiapkan sistem suksesi yang menjamin tidak terputusnya kepemimpinan yang baik di organisasi, seperti Alibaba," ujar Piter.

Indonesia sudah punya beberapa unicorn dan satu decacorn, didukung oleh pasar lumayan besar, Indonesia akan mampu menciptakan raksasa-raksasa perusahaan digital. Syaratnya dukungan environment yang kondusif yang harus diciptakan oleh otoritas atau pemerintah.

"Pasar yang besar tidak akan mampu mendorong industri digital kalau tidak diikuti dengan daya beli yang cukup tinggi," tegasnya. [idr]

Baca juga:
BPKH Dorong Traveloka Cs Masuk Sistem Pelayanan Terpadu di Arab Saudi
Sambut Revolusi Digital, AMSI Gelar Indonesia Digital Conference 2019
Cashbac Gelar Promo di Tanggal Muda
Jebolan Silicon Valley, Xendit Bangun Sistem Pembayaran Digital Top di Indonesia
Yenny Wahid: Disrupsi Teknologi Harus Berdampak Positif kepada Manusia

Topik berita Terkait:
  1. Digital Startup
  2. Fintech
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini