Waspada Fenomena Bubble Burst, Ini Tips untuk Founder Startup

Jumat, 24 Juni 2022 05:00 Reporter : Siti Nur Azzura
Waspada Fenomena Bubble Burst, Ini Tips untuk Founder Startup Startup. © bmccanada.ca

Merdeka.com - Fenomena bubble burst saat ini tengah menjadi momok bagi perusahaan rintisan (startup), karena naiknya suku bunga Federal Reserve dan menyebabkan Cost of Capital naik sejak November-Desember 2021. Akibatnya, banyak investor memindahkan asetnya dari perusahaan dengan pertumbuhan tinggi (high growth), dan mencari perusahaan dengan aset yang aman seperti komoditas.

Bubble Burst adalah siklus ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya nilai pasar, terutama harga aset secara drastis. Namun kemudian diikuti dengan penurunan nilai atau harga yang cepat atau disebut kontraksi.

"Banyak yang lari ke komoditas, juga precious metal, kepada asset class yang lain. Nah untuk perusahaan teknologi yang sangat high growth dan benefit dari low cost environment itu mereka mengalami penurunan karena banyak investor lari," kata Founding Partner AC Venture Pandu Patria Sjahrir di Jakarta, Kamis (23/6).

Namun menurut Pandu yang juga Managing Partner di Indies Capital, saat ini justru menjadi waktu yang sangat menarik untuk melihat perkembangan startup, karena masih adanya pertumbuhan di sektor teknologi. "Apa sih yang berubah selama 4-5 bulan terakhir, karena pertumbuhannya masih ada. Banyak perusahaan sektor teknologi ini. Menurut saya sangat bagus untuk melihat nilai yang ada pada sektor teknologi," ucapnya.

Meski terlihat masih menggiurkan, Pandu juga mewanti-wanti Founder startup bahwa investor akan lebih berhati-hati. Investor, menurutnya, kini cenderung mencari startup yang bisa menjadi solusi permasalahan yang ada pada masyarakat dari hulu ke hilir.

2 dari 2 halaman

Tips untuk founder startup

founder startup rev1

Dalam menghadapi bubble burst ini, Pandu pun memberikan tiga tips untuk pendiri atau founder startup. Pertama mereka harus benar-benar dilihat apakah bisnis mereka mampu menghasilkan omzet atau tidak.

"Ini kadang dianggap kita harus membeli pangsa pasar. Tapi yang paling penting adalah produk market fit-nya sudah pas atau belum? Jadi Anda harus bisa belajar beradaptasi yang sangat cepat untuk melihat 'Eh saya bisa gak ya menghasilkan profit dari bisnis saya sekarang ini?" kata Pandu.

Kedua, para founder juga harus bisa membaca dari sisi sentimen investor bahwa mereka tidak hanya cari perusahaan yang tumbuh (growth) saja. Investor pasti mencari keuntungan. "Bisa gak Anda untung sekarang? Unit economic Anda bagaimana? Jadi itu juga harus dijadikan top of mind," ujarnya.

Terakhir adalah para founder jangan terus menggantungkan diri pada pendanaan dari investor. Menurut Pandu, pendiri startup harus bisa menggunakan uang yang ada untuk terus diputar dan diinvestasikan ulang untuk pertumbuhan perusahaan mereka.

"Jadi kalau sekarang misal 'Oh saya harus (dapat pendanaan) seri A, seri B, seri C. Paling enak kalau bisa dari pre-seri A eh udah bisa loncat, nanti seri B, seri C. Bahasanya skip round, sebenarnya buat para shareholder, atau owner atau founder ini juga lebih bagus karena Anda punya equity lebih banyak di perusahaan Anda. Jadi Anda actually have a very good defensible business model," tandasnya. [azz]

Baca juga:
Terapkan 6 Hal ini Saat Pilih Perusahaan yang Tepat untuk Bekerja
Perusahaan Wajib Tahu, Ini Alasan Karyawan Mengundurkan Diri Massal
Tips Ajarkan Finansial Pada Anak: Jangan Beri Mereka Uang
Tips Jitu Kumpulkan Dana Haji
Cara Membuat Rekening untuk Anak di Bawah 17 Tahun di BRI, BNI, dan BCA

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini