Wapres JK Ingatkan Pencurian Ikan Akan Ciptakan Para Pembajak Kapal

Selasa, 8 Oktober 2019 12:44 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Wapres JK Ingatkan Pencurian Ikan Akan Ciptakan Para Pembajak Kapal Jokowi dan JK pimpin sidang kabinet paripurna. ©2019 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menegaskan pentingnya upaya menjaga keamanan laut, terutama dari praktik pencurian ikan atau Ilegal Unreported Unregulated (IUU) Fishing. Hal ini dilakukan untuk menjaga sumber daya kelautan agar dapat dimanfaatkan oleh para nelayan Indonesia.

"Bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti) selalu berusaha dengan itu, tentu upaya lain untuk meningkatkan produksi ikan. Tapi jangan biarkan orang marah karena kita tidak menjaga kelautan ini. Ini tentu harus menjadi upaya kita. Pertama menjaga biota laut, karang. Kedua, menjaga sumber-sumber laut tidak menjadikannya habis," tegas dia, dalam Konferensi SDGs, di Jakarta, Selasa (8/10).

Selain menjaga keamanan serta keberlangsungan sumber daya kelautan, pemerintah akan meningkatkan kapasitas nelayan baik dari sisi SDM maupun permodalan. "Kenapa nelayan selalu miskin? Karena dia tidak punya apa-apa untuk mendapatkan sumber dana, maka timbullah masalah seperti itu. Maka sumber daya, masyarakat pesisir," kata JK.

"Kita sudah punya dua Kementerian yang urus itu. Kementerian Kelautan, ada Menkonya. Karena tanpa meningkatkan masyarakat pesisir, tidak bisa dapat hal yang baik, kemudian menjaga, dan upayanya," imbuhnya.

Sebagai contoh, Wapres JK menyebut praktik bajak laut Somalia. Hal tersebut diakibatkan karena masyarakat tidak dapat memanfaatkan SDA laut akibat IUU Fishing.

"Kalau kita sebut Somalia, apa pikiran Anda semua? Bajak laut. Kenapa terjadi bajak laut di Somalia? Karena nelayan marah. Pantai Somalia terkenal sumber perikanan yang baik, tuna. Datanglah pelayar yang banyak macam-macam negara dengan kapal yang lebih canggih dari nelayan Somalia," jelas dia.

Masyarakat yang terganggu atau kehilangan mata pencahariannya tersebut kemudian beralih mencari pekerjaan lain. "Rakyat marah, bukan mencari ikan, tapi mencari orang. Dari mencari ikan ke mencari kapal. Maka pendapatannya berlipat-lipat kali bulan dari ikan, tapi dari kapal," ujar dia.

"Itu bagaimana kemarahan nelayan akibat ilegal unreported dan unregulated fishing (pencurian ikan). Mudah-mudahan nelayan di Maluku atau di Jawa tidak marah seperti Somalia, karena habis sumber daya ikannya," tandasnya. [bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini