UU Cipta Kerja Dinilai Mampu Tingkatkan Daya Saing Industri Manufaktur RI

Kamis, 19 November 2020 10:43 Reporter : Sulaeman
UU Cipta Kerja Dinilai Mampu Tingkatkan Daya Saing Industri Manufaktur RI pabrik sepeda. ©2019 REUTERS/Aly Song

Merdeka.com - Kementerian Perindustrian bertekad untuk semakin memperkuat peran sektor industri di tanah air dalam rantai nilai global (global value chains) guna meningkatkan daya saing manufaktur nasional. Upaya strategis ini dilakukan antara lain melalui penyederhanaan regulasi guna mempermudah pelaku usaha.

"Melalui langkah tersebut, sektor industri manufaktur kita diharapkan dapat terus tumbuh dan berkembang sehingga akan meningkatkan pula ekspor dari barang-barang hasil hilirisasi industri kita dalam rantai nilai global," kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Dody Widodo di Jakarta, Kamis (19/11).

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah terus berbenah agar sektor manufaktur Indonesia semakin memiliki daya saing serta mampu meningkatkan ekspor produk hasil hilirisasi. Di antaranya melalui penerapan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.

"Dalam upaya membangun sektor manufaktur, kami yakin UU Ciptaker ini dapat membangun sistem yang lebih baik untuk meningkatkan investasi di Indonesia. Karena itu, kami terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga lain yang terkait untuk meningkatkan sinergi mewujudkan ease of doing business dan peningkatan daya saing," papar Dody.

Dirjen KPAII menjelaskan, dalam UU Cipta Kerja terdapat pasal-pasal yang terkait langsung dengan perindustrian. Pada pasal tersebut akan menjadi satu Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) dalam pelaksanaan UU Ciptaker pada sektor perindustrian yang akan mencakup lima hal.

2 dari 2 halaman

Pertama, RPP tentang kemudahan untuk mendapatkan bahan baku atau bahan penolong untuk industri. Kedua, RPP tentang pembinaan dan pengawasan terhadap lembaga penilaian kesesuaian. Ketiga, RPP tentang industri strategis. Keempat, RPP tentang pemberian perizinan berusaha untuk usaha industri. Terakhir, RPP tentang peran serta masyarakat dalam pembangunan industri.

"Nantinya, online single submission (OSS) versi terbaru yang akan dipertegas dalam omnibus law, diharapkan akan mengatasi beban administrasi yang berat dan tumpang tindih aturan," imbuh Dody.

Berdasarkan Industrial Development Report 2020 yang dirilis UNIDO, Indonesia berada di urutan ke-38 dari total 150 negara dalam peringkat Competitive Industrial Performance (CIP) Index pada tahun 2019. Artinya, posisi Indonesia berhasil naik dibanding tahun 2018 yang menempati peringkat ke-39.

"Terkait hal tersebut, Indonesia masuk ke dalam kategori Upper Middle Quintile dan memiliki peringkat lebih tinggi daripada India (peringkat ke-39), Filipina (peringkat ke-41), dan Vietnam (peringkat ke-43)," tutupnya. [azz]

Baca juga:
Kuartal III-2020, Industri Manufaktur Tumbuh 5,25 Persen
Meski PMI Oktober Naik Tipis,Pemerintah Optimistis Pemulihan Ekonomi Bergerak Positif
Daihatsu Gelar Konvensi Inovasi untuk Tingkatkan Kualitas Produk
Bisnis Otomotif Astra Turun 70 Persen, Untung Penjualan Mobilnya Naik di Kuartal III
Meski Terpukul akibat Pandemi, Pemerintah Terus Pacu Industri Otomotif RI
Indonesia Nihil Pameran Otomotif Tahun Ini, Gaikindo Jakarta Auto Week Mundur ke 2021

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini