Uni Eropa: Kami Akan Terus Jadi Pangsa Ekspor Kelapa Sawit Terbesar Kedua Indonesia

Kamis, 5 September 2019 16:45 Reporter : Dwi Aditya Putra
Uni Eropa: Kami Akan Terus Jadi Pangsa Ekspor Kelapa Sawit Terbesar Kedua Indonesia Sawit. Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Wakil Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Charles Michel Geurts, membantah telah melakukan aksi boikot terhadap minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) produksi asal Indonesia. Sebab, kampanye bebas minyak kelapa sawit dilakukan pihaknya adalah bentuk perhatian masyarakat terhadap lingkungan.

"Tidak ada sama sekali pelarangan impor minyak kelapa sawit dalam hubungan perdagangan antara Indonesia dengan Uni Eropa," ujar Charles saat ditemui di Jakarta, Kamis (4/9).

Menurut Charles, justru terjadi pandangan yang berbeda antara produsen minyak kelapa sawit dan pemerintah Indonesia. Di mana, keduanya menilai ada pembatasan impor minyak kelapa sawit di salah satu pangsa terbesar Indonesia tersebut.

Pemerintah Uni Eropa pun mengklaim bahwa tidak ada hambatan atau peraturan-peraturan yang bersifat diskriminatif terhadap minyak kelapa sawit asal Indonesia. Tarif yang diberlakukan oleh otoritas terhadap minyak kelapa sawit Indonesia pun sebesar 0 persen hingga 10,9 persen cenderung rendah jika dibandingkan dengan negara eksportir lain.

Pihaknya pun mendukung upaya Indonesia untuk mencapai 100 persen minyak kelapa sawit berkelanjutan pada tahun 2020. Hanya saja dia menyerukan standar yang jelas dan ditegakkan dengan baik untuk melindungi masyarakat lokal, ekosistem dan cadangan karbon, sejalan dengan Perjanjian Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

"Kami adalah pemasok utama dari minyak kelapa sawit dan kami membutuhkan itu. Uni Eropa telah dan akan terus menjadi pangsa ekspor minyak kelapa sawit terbesar kedua Indonesia setelah India," ujar dia.

Nilai impor minyak kelapa sawit dari Indonesia ke Uni Eropa pada tahun 2018 merosot 22 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal tersebut disebabkan, sebagian besar minyak kelapa sawit yang sebelumnya digunakan untuk produksi dialihkan menjadi biodiesel.

Sehingga jika dibandingkan antara minyak kelapa sawit dan biodiesel, ekspor Indonesia ke Uni Eropa hanya turun 2 persen. Sementara dari segi volume, pada lima bulan pertama tahun ini, volume impor minyak kelapa sawit asal Indonesia di kawasan Uni Eropa tumbuh 0,7 persen.

"Minyak kelapa sawit di industri Eropa digunakan baik untuk olahan makanan maupun kosmetik, selain itu juga diproduksi kembali dengan biodiesel. Secara kasar pembagiannya 50:50. Bahkan, hampir 50 persen perusahaan swasta yang memroduksi biodiesel di Uni Eropa menggunakan minyak kelapa sawit asal Indonesia," jelas dia. [bim]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini