Turunkan suku bunga kredit fintech, ini saran Chatib Basri untuk pemerintah

Kamis, 29 Maret 2018 13:43 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Turunkan suku bunga kredit fintech, ini saran Chatib Basri untuk pemerintah Ilustrasi fintech. © business insider

Merdeka.com - Ekonom Universitas Indonesia sekaligus Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri buka suara terkait tingginya bunga kredit yang diberikan oleh perusahaan financial technology (fintech), bahkan bisa mencapai 20 persen.

Menurut dia, yang dapat dilakukan pemerintah adalah menumbuhkan iklim kompetisi yang sehat di antara perusahaan fintech tersebut. Dengan adanya kompetisi, bunga kredit bakal menurun seiring karena banyaknya perusahaan fintech yang menawarkan jasa kredit.

"Sebetulnya kalau mau dilihat tingkat bunga itu bisa sangat tinggi, itu karena playernya sedikit. Kalau Anda datang dengan produk yg sama bisa kasih bunga 15 persen, costumer-nya bisa pindah enggak dari yang 20 persen ke 15 persen? Issuenya adalah kompetisi kan. Jadi kalau marketnya dibuka, pasti tingkat bunganya akan turun," ungkapnya di Energy Building, Jakarta, Kamis (29/3).

Langkah membuka market lebih luas bakal mendorong perusahaan fintech untuk lebih kompetitif. Salah satunya dari sisi penyediaan bunga pinjaman yang lebih rendah dari saat ini.

"Sebetulnya pendekatan yang mesti dilakukan adalah perbanyak saja yang ada di segmen market itu. Pasti bunganya akan dipaksa turun. Contohnya pesawat, kalau ada yang jual tiket besar sekali, begitu ada kompetitor dengan budget lebih rendah akan turun kan. Mau enggak mau. Begitu juga dengan yang 20 persen ke 15 persen pasti akan turun," imbuhnya.

Namun, jika strategi membuka pasar dan mendorong kompetisi tidak jalan, atau jumlah fintech juga tidak banyak yang masuk, maka pemerintah tentu harus hadir.

"Cuma pertanyaannya adalah kalau enggak banyak yang masuk ke sini, di situ peran dari regulator ada. Pemerintah harus step in. Karena jangan sampai juga kemudian berlebihan," ujarnya.

Di sisi lain, dia juga berharap agar perusahaan fintech juga dapat lebih jeli melihat pasar dan potensi usaha secara lebih realistis.

"Menurut saya juga dari fintech kalau dia ngambil profit margin, tentu dia juga harus lihat yang sensiable. Jangan juga karena market strukturnya cuma dia, satu-dua orang, dia bisa cecer setinggi-tingginya. Tentu orang akan bereaksi, yang nanti bisa berpengaruh terhadap industri," tegas dia. [idr]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini