Trump memulai perang dagang dengan China, mata uang dan bursa Asia tertekan

Jumat, 6 Juli 2018 13:32 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Donald Trump. ©2018 Associated Press

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump resmi melempar serangan pertama dalam perang dagang dengan memberlakukan tarif pada impor China. Tarif AS pada impor China senilai USD 34 miliar telah berlaku hari ini, Jumat (6/7) pukul 04:00 GMT. Bahkan, Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan menjadi USD 500 miliar jika China melakukan perlawanan berupa pemberlakuan tarif balasan.

Salah satu analis FXTM, Jameel Ahmad, mengatakan kebijakan tersebut membuat mata uang beberapa negara berkembang langsung tumbang. "Ada beberapa penghindaran risiko di atmosfer setelah pengumuman dari Presiden Trump, di mana mata uang negara berkembang dan pasar saham tampak berjuang sebagai akibat dari lingkungan perdagangan yang berhati-hati," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/7).

Beberapa mata uang yang langsung terkena dampak adalah Yuan Cina, Rupee India, Ringgit Malaysia, Baht Thailand, Won Korea, dan Dolar Singapura semuanya diperdagangkan lebih rendah pada hari ini. Tidak hanya itu, pasar perdagangan saham Asia pun akan terkena imbasnya.

"Antisipasi tentang apakah Beijing (China) akan bereaksi, atau membalas dengan tarif dari Presiden Trump dapat mempertahankan bias hati-hati dari investor," ujarnya.

Dia menjelaskan, jika pasar saham Asia terus memperdagangkan secara hati-hati di belakang tarif perdagangan AS di China, ada kemungkinan bahwa ini juga dapat berdampak negatif terhadap pasar saham Eropa ketika mereka membuka perdagangan mereka. Tekanan perdagangan ini diprediksi dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi global.

"Masih ada ketidakpastian besar tentang bagaimana ancaman perang perdagangan akan benar-benar berdampak pada ekonomi global."

Hal ini sebagian besar masih bersifat spekulatif (perkiraan) dan harus dipantau setidaknya beberapa bulan sebelum dapat diketahui secara akurat seperti apa dampak yang ditimbulkan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dia melanjutkan, untuk saat ini, isu perang dagang akan terus memicu sentimen pasar dan menimbulkan kehati-hatian.

"Kemungkinan akan mengarah pada perpanjangan dari suasana hati-hati yang melanda pasar keuangan selama beberapa minggu terakhir. Penghindaran risiko juga akan mendorong pengurangan lain dalam selera risiko, di mana aset pasar berkembang secara keseluruhan kemungkinan akan berjuang untuk menemukan dukungan pembelian."

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini