Truk Diusulkan Dilarang Naik Tol Layang Jakarta-Cikampek, Tarif Masih Dibahas

Kamis, 19 September 2019 12:56 Reporter : Merdeka
Truk Diusulkan Dilarang Naik Tol Layang Jakarta-Cikampek, Tarif Masih Dibahas Menteri PUPR tinjau Tol Layang Jakarta-Cikampek II. ©Liputan6.com/Maulandy Rizki Bayu Kencana

Merdeka.com - Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Elevated atau Tol Layang Jakarta-Cikampek II ditargetkan beroperasi penuh pada November 2019. Saat ini, progres terakhir pengerjaan tol layang sepanjang 36,8 Km ini telah mencapai 96,5 persen.

PT Jasa Marga (Persero) Tbk selaku pihak pengelola Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II menyampaikan, penentuan tarif pada ruas tol tersebut hingga saat inj masih belum final.

"Tarif masih dibahas. Kami masih presentasi dengan PPJT (dokumen Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol) mekanisme trafik manajemennya nanti di sini seperti apa. Ini masih terus dibahas bersama tim," jelas Direktur Utama Jasa Marga, Desi Arryani saat meninjau proyek Tol Jakarta-Cikampek II Elevated di Bekasi, Kamis (19/9).

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, Danang Parikesit mengatakan, ketentuan tarif nantinya tidak akan keluar dari batas atas dan batas terendah yang diusulkan PT Jasamarga Jalan layang Cikampek (JJC) dalam dokumen PPJT.

"Kalau enggak salah usulannya antara Rp 1.700-2.000 per km. Ini nanti akan kita rebalancing dengan yang ada di bawah tol (Tol Jakarta-Cikampek eksisting)," ujar Danang.

Adapun proyek Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II (Elevated) yang berada tepat di sebagian ruas Tol Jakarta-Cikampek eksisting, membentang dari ruas Cikunir hingga Karawang Barat (Sta 9+500 sampai dengan Sta 47+500).

Sebelum bisa beroperasi pada November nanti, ruas tol ini akan dilakukan uji beban guna mengukur daya tampung jalan, yakni dengan menaruh iringan 16 truk berbobot 40 ton per unit yang akan berjalan dari titik awal hingga titik akhir.

Terkait jenis kendaraan golongan mana saja yang nanti bisa melaju di atas tol layang ini, Desi mengutarakan, pihaknya mengusulkan hanya kendaraan Golongan I saja yang boleh melewatinya. Usulan ini dilontarkan dengan alasan faktor keamanan.

"Mungkin kita akan terus mengusulkan sampai tidak ada ODOL (Over Dimension Over Load/Kendaraan berlebih muatan). Jadi lebih ke traffic management-nya, bukan kekuatan jembatannya. Kekuatan jembatannya sebenarnya bisa untuk semua golongan," tuturnya.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com [idr]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini