Triwulan IV, pelonggaran hilirisasi berdampak positif ke ekspor

Selasa, 2 September 2014 13:27 Reporter : Ardyan Mohamad
Triwulan IV, pelonggaran hilirisasi berdampak positif ke ekspor Ilustrasi Ekspor Impor. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Kementerian Perdagangan optimis memasuki Agustus hingga triwulan IV 2014, kinerja ekspor bahan mineral bisa melonjak tajam. Itu karena mayoritas perusahaan tambang skala besar sudah mengurus jaminan kepada pemerintah, agar diizinkan menjual konsentrat dengan janji membangun smelter.

"Selama Juli 2014 hampir seluruh sektor nonmigas melemah, kecuali pertambangan yang meningkat 0,7 persen, dengan mencatat nilai USD 1,8 miliar," kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di Kantornya, Jakarta, Selasa (2/9).

Data itu terhitung menggembirakan, setelah pada semester I 2014 angka ekspor menurun tajam dengan minimnya penjualan hasil tambang. Undang-Undang Mineral dan Baru Bara (Minerba) yang kerap disebut beleid hilirisasi melarang ekspor bahan mentah per Januari lalu.

Bayu optimis, seiring bertambahnya jumlah perusahaan tambang mendapat Surat Persetujuan Ekspor (SPE), maka pemerintah bisa mengharapkan tambahan surplus perdagangan dari tambang.

"Dengan data Juli, kita bisa lihat growth tambang mulai tumbuh setelah kita menerapkan UU Minerba. Jadi kita memperkirakan Agustus (2014), ekspor kita dari sektor mineral akan lebih besar," tandasnya.

Di luar itu, adanya agenda hilirisasi sejak awal tahun ini memaksa perusahaan menjalankan sektor pengolahan. Pada kinerja beberapa tambang, dampaknya sudah positif kepada neraca perdagangan nasional.

Bayu mencontohkan komoditas paling moncer ekspornya pada bulan lalu, adalah besi dan baja, meningkat 89 persen. Demikian pula bijih, kerak, dan abu logam, tumbuh 72,1 persen. Itu semua adalah produk turunan tambang mineral.

"Tandanya karena kegiatan pengolahan sudah mulai berjalan," ujarnya.

Secara total ekspor non-migas Indonesia, termasuk di dalamnya hasil tambang, pada Juli 2014 mencapai USD 11,6 miliar. Terjadi penurunan 7,9 persen dibanding Juni, lantaran melemahnya penjualan ke luar negeri dari seluruh sektor, akibat tingginya permintaan domestik jelang Lebaran.

Di luar itu, selama Januari-Juli 2014, ekspor Indonesia baik migas maupun non-migas mencapai 103 miliar, turun 3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Anjloknya hasil tambang, membuat pemasukan nonmigas hanya menyumbang USD 84,8 miliar pada total ekspor, alias turun 3,2 persen dibanding 2013. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini