Tiga alasan pengusaha taruh uang di negara surga pajak

Sabtu, 9 April 2016 13:00 Reporter : Siti Nur Azzura
Tiga alasan pengusaha taruh uang di negara surga pajak Rupiah. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan terkait bocoran data 'Panama Papers' dari firma hukum internasional Mossack Fonseca tak selalu diartikan sebagai bisnis ilegal. Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa para pengusaha menaruh uangnya di negara-negara surga pajak (tax haven).

Pertama, para pengusaha murni melakukan aksi korporasi di mana seseorang mendirikan perusahaan di negara tax haven untuk keperluan tertentu. Seperti menjual obligasi, membeli saham, atau melakukan ekspansi bisnis.

"Untuk aksi korporasi. Di mana karena mereka (pengusaha) di situ menikmati kemudahan administrasi, kerahasiaan dan juga mengantisipasi kebangkrutan. Kategori ini termasuk praktik legal," kata Yustinus dalam diskusi di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu (9/4).

Kedua, adanya pendirian perusahaan di negara surga pajak bisa bertujuan untuk menyembunyikan aset hasil bisnis ilegal seperti korupsi. Tentunya, hal ini jelas adalah pelanggaran hukum.

"Ini adalah modus, dari pengusaha untuk merahasiakan uang mereka di tax haven, ini banyak pengusaha, politisi, dan pejabat menyimpan uangnya di sana, karena tidak mau bayar pajak," imbuhnya.

Alasan ketiga, para pengusaha melakukan pemindahan dana untuk menghindari pajak sehingga perusahaan dapat lebih efisien karena membayar pajak lebih rendah.

Dengan begitu, pemerintah harus jeli memastikan alasan-alasan para pengusaha memindahkan dananya ke luar negeri. Seperti untuk alasan pertama dan ketiga, Ditjen Pajak harus melakukan pengujian terlebih dahulu apakah perusahaan tersebut melanggar aturan atau tidak.

Misalnya melalui identifikasi ada tidaknya aktivitas bisnis yang dilakukan oleh perusahaan di negara tax haven tersebut. "Jika tidak ada, maka itu bisa diindikasikan termasuk praktik tax evasion dan dapat dikenakan sanksi, saya kira Panama Papers adalah puncak gunung es dari segala permasalahan pajak di dunia, termasuk di Indonesia," tandasnya. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini