Tidak sampai 1 persen pekerja Indonesia yang berinvestasi

Kamis, 17 September 2015 16:08 Reporter : Novita Intan Sari
Tidak sampai 1 persen pekerja Indonesia yang berinvestasi Bursa Efek Indonesia. ©2015 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Masyarakat cenderung memilih bank sebagai tempat menyimpan uang. Alasannya, masyarakat takut mengambil risiko dan merasa lebih aman jika menyimpan di bank dibanding menaruh uangnya di instrumen investasi.

President Director Syailendra Capital, Jos Parengkuan mengamini kebiasaan masyarakat memilih bank sebagai tempat menyimpan uang. Menurutnya, sekitar 90 persen masyarakat Indonesia menyimpan dana di bank. Sementara di pasar modal, jumlahnya tidak sampai 1 persen. Kondisi ini tidak lepas dari minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pasar modal dan produk investasi.

"Investor reksadana ada 160.000. Tenaga kerja di Indonesia 125 juta yang tercatat, kalau dipilah lagi 40 juta di sektor formal, sisanya di sektor non formal. Yang berinvestasi di reksadana tidak sampai 1 persen atau 450.000," ujarnya di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis (17/9).

Dia melanjutkan, jika dibandingkan dengan negara lain dalam lingkup ASEAN, Indonesia masih jauh tertinggal.

"Negara lain jauh lebih besar dari Indonesia, kenapa? Kalau kita liat banyak sekali hilangnya investor di Indonesia," jelas dia.

Untuk menggairahkan minat masyarakat pada produk investasi, pendidikan pentingnya investasi perlu terus digalakkan. Joss menuturkan, peluang dan keuntungan berinvestasi di pasar modal sangat besar. Apalagi pertumbuhan di pasar modal sebenarnya lebih besar dibandingkan perbankan. Karena itu sayang jika tidak dimanfaatkan masyarakat. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Investasi
  2. Bursa Saham
  3. Reksadana
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini