Tiap tahun rugi triliunan rupiah sebab Jakarta dikepung banjir

Kamis, 16 Januari 2014 08:39 Reporter : Moch Wahyudi
Tiap tahun rugi triliunan rupiah sebab Jakarta dikepung banjir banjir pasar cipulir. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - "Banjir dan rugi adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan." Begitulah ungkapan Wawan, salah satu warga Pondok Kopi, Jakarta Timur selepas rumahnya tergenang banjir.

Banjir memang sudah rutin terjadi dan selalu dialami Wawan setiap tahun. Namun tetap saja dia tidak siap menerimanya. Sebab, dia menganggap pemerintah sudah semakin berpengalaman dan bisa menghindarkan warga dari 'tamu tak diundang itu'.

Wawan mendengar soal strategi pemerintah memodifikasi cuaca sejak siaga darurat banjir di DKI Jakarta diumumkan pada 13 Januari lalu. Wawan menjawab, "Hujan itu bukan motor atau mobil buatan manusia yang bisa seenaknya dimodifikasi oleh manusia juga,".

Meskipun pemerintah sudah mengucurkan dana Rp 20 miliar untuk modifikasi cuaca tahun lalu, curah hujan baru bisa ditekan maksimal 30 persen. Rumah Wawan dan warga DKI lainnya masih saja banjir hampir setinggi satu meter.

"Sebenarnya, kalau banjir mau hilang, air hujan harus dibiarkan wadah yang cukup agar mengalir dengan lancar hingga laut. Kemudian, daerah hulunya dibenerin agar bisa jadi daerah yang menyerap air. Jangan diubah jadi kawasan villa mewah," kata Wawan berlaga ahli banjir.

Pemprov DKI Jakarta memang harus mengakselerasi program pencegahan banjir kalau tidak mau menanggung rugi setiap tahun. Sebab, kerugian yang dialami akibat banjir cukup besar. Nilainya mencapai triliunan rupiah, dan itu hampir terjadi setiap tahun. Berkaca dari tahun lalu, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyebutkan, kerugian akibat banjir bisa mencapai Rp 20 triliun.

Kerugian terjadi akibat roda perekonomian terhenti. Aktivitas ekonomi warga terhambat genangan air. Salah satunya yang diungkapkan Udin, salah seorang pedagang pakaian Pasar Cipulir. Dia mengaku selalu rugi setiap tahun saat musim banjir tiba. Sebab, kondisi pasar yang tergenang air hingga setinggi satu meter menghentikan aktivitas ekonomi.

"Pengunjung ya tidak ada yang ke sini, dagangan tidak laku. Ya kalau ditanya kerugian ya sekitar Rp 5-10 juta sehari. Anehnya ya itu selalu setiap tahun, tidak beres-beres," katanya.

Setiap Jakarta dilumpuhkan banjir, kerugian yang dialami harus diakui sangat tinggi. Berdasarkan data dari 'Laporan Perkiraan Kerusakan dan Kerugian Pasca Bencana Banjir Awal Februari 2007 di Wilayah Jabodetabek', yang dikeluarkan Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 16 Februari 2007, diperkirakan kerugian mencapai Rp 5,16 triliun.

Kerugian besar akibat banjir, juga harus ditelan warga Jakarta pada 2002 lalu. Berdasarkan data dari buku 'Hubungan Kerjasama Institusi dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai' karya omo Rusdiana dan kawan-kawan, Jakarta harus merugi sedikitnya Rp 9,8 triliun.

Dengan rincian kerugian sektor ekonomi Rp 2,5 triliun, transportasi dan telekomunikasi sebesar Rp 78,5 miliar, kerusakan langsung Rp 5,3 triliun, dan kerusakan tidak langsung Rp 2,8 triliun.

Pada banjir 2002, sedikitnya 3,7 juta dari 8,3 juta penduduk Jakarta kebanjiran. Sedangkan, luasan daerah yang kebanjiran mencapai 65 hektar, dan luas genangan banjir 8,7 hektar. Akankah setiap tahun triliunan rupiah harus terbuang percuma terbawa arus banjir? Semoga pemerintah bisa segera mencari solusi jitu untuk menghindarkan ibu kota dari musibah musiman ini. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Banjir Jakarta
  2. Jokowi Ahok
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini