Tergerus Pembangunan, Jawa Barat Kehilangan 10 Persen Lahan Pertanian Setiap Tahun

Selasa, 16 Juli 2019 23:22 Reporter : Mochammad Iqbal
Tergerus Pembangunan, Jawa Barat Kehilangan 10 Persen Lahan Pertanian Setiap Tahun Panen padi Jarong. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum menuturkan, setiap tahun terjadi penyempitan lahan pertanian akibat pembangunan. Dari data yang ada, tiap tahun Jabar kehilangan 10 persen dari total luas lahan pertanian yang ada. Kondisi ini diperburuk dengan fakta bahwa keluarga petani tidak lagi mendorong atau melahirkan anak-anaknya untuk menjadi petani.

"Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jabar, ada 573.842 hektare lahan pertanian. Jika 10 persen menyusut, artinya dalam setahun ada sekitar 57 hektare lahan yang menghilang. Pesatnya pembangunan ini tidak disesuaikan dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW)," ujarnya di Kota Tasikmalaya dalam perayaan Hari Krida Pertanian ke-47 Provinsi Jawa Barat, Selasa (16/7).

Untuk mengantisipasi penyusutan luas lahan pertanian di Jawa Barat, pemerintah provinsi telah membuat peraturan daerah tentang sawah abadi. Dengan peraturan tersebut, maka lahan pertanian yang memiliki potensi tinggi tidak bisa dialihfungsikan. Uu mengimbau agar seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat agar segera membuat Perda serupa dan segera menyelesaikan Perda RTRW.

"Dengan begitu orang yang ingin membangun tak bisa sembarangan. Jadi kan ada dua benteng menahan laju pembangunan di sawah bagus," katanya.

Lahan pertanian di Jawa Barat harus dijaga. Sebab status Jabar masih sebagai daerah kedua penghasil beras nasional. Dia menyebut, dari 50 persen beras yang dihasilkan se-Pulau Jawa, 18 persennya dari Jawa Barat. Dalam jangka panjang, Jawa Barat menargetkan diri menjadi lumbung padi nasional.

"Kalau persoalan pangan ini tidak sukses akan menjadi rawan karena masyarakat kan tidak makan besi dan beton, melainkan makan hasil para petani. Jadi sebanyak apapun duit kita kalau tidak ada hasil tani ya tidak akan ada gunanya," jelasnya.

Saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah berusaha mendorong lahirnya petani milenial. Salah satu cara dengan membuat sekolah menengah kejuruan pertanian di kabupaten/kota yang potensi pertaniannya tinggi. Pihaknya pun tengah memetakan daerah yang membutuhkan dan memiliki potensi hal tersebut. Selain itu, lanjut Uu, pihaknya juga akan memberikan alat pertanian modern bagi kelompok tani.

"Dengan alat pertanian yang modern akan menjadi daya tarik kaum milenial untuk masuk ke dunia pertanian, tapi harus ada regenerasi kemudian. Saat milenial dikombinasikan dengan teknologi modern, hasilnya pasti maksimal," ungkapnya. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini