Tanpa Batu Bara Indonesia, China dan India Bakal Gelap

Minggu, 4 Desember 2022 08:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Tanpa Batu Bara Indonesia, China dan India Bakal Gelap China. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengaku kaget mengetahui fakta bahwa banyak negara yang tergantung dengan produk dari Indonesia. Jokowi banyak menerima telepon, mulai dari perdana menteri hingga kepala negara ketika menghentikan impor batu bara selama 2 minggu beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data Trade Map tahun 2021, China, India, Amerika Serikat hingga Uni Eropa memiliki ketergantungan terhadap produk-produk komoditas unggulan Indonesia.

Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan, ketergantungan negara tersebut kepada Indonesia sangat besar. Mereka membutuhkan produk unggulan nasional untuk menggerakkan industri pengolahannya.

Bila Indonesia mengeluarkan kebijakan moratorium atau menghentikan ekspor produk-produk, maka ketiga negara itu bisa kelabakan.

"Jika Indonesia setop melakukan ekspor, industri pengolahan di tiga negara bisa berhenti total," kata Bhima kepada merdeka.com, Jakarta, Sabtu (3/12).

Bahkan, jika ekspor batu bara dihentikan Indonesia, China dan India bisa gelap. Sebab pembangkit listrik mereka membutuhkan batubara sebagai penghasil listriknya.

"Untuk pasokan listrik di India dan China yang masih andalkan batu bara akan blackout alias padam," ungkap Bhima.

2 dari 3 halaman

Bukti Ketergantungan China dan India dengan Indonesia

Sepanjang tahun 2021, ketergantungan China terhadap produk batu bara Indonesia mencapai USD 22,7 miliar. Impor produk bijih besi China dari Indonesia juga mencapai USD 13,1 miliar.

Selain itu, China juga mengimpor CPO senilai USD 6,7 miliar, tembaga senilai USD 972 juta dan produk nikel sebesar USD 240,3 juta.

Begitu juga dengan India yang sangat bergantung pada produk batu bara, CPO, karet dan Timah asal Indonesia. Masing-masing nilai impor India dari Tanah Air yakni USD 6,3 miliar (batu bara), USD 4 miliar (CPO), USD 323 juta (karet) dan USD 247 juta (timah).

Sementara itu produk Indonesia yang menjadi andalan Amerika Serikat yakni produk karet, CPO, produk perikanan dan produk kayu. Negeri Paman Sam ini tahun 2021 mengimpor produk karet senilai USD 2,4 miliar, CPO sebesar USD 2,1 miliar, produk perikanan USD 1,4 juta dan USD 1 miliar produk kayu.

3 dari 3 halaman

Kondisi Uni Eropa Tergantung Indonesia

Kondisi serupa juga bisa dialami Uni Eropa. Masih dari sumber yang sama, Uni Eropa memiliki ketergantungan yang sama dengan Indonesia.  "Apalagi Eropa yang sekarang sedang krisis energi," kata Bhima.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor migas Indonesia pada September 2022 ke Eropa Barat senilai USD 61,1 juta. Sedangkan ekspor non migasnya untuk Eropa Barat senilai USD 1,68 miliar dan ke Eropa Timur senilai USD 430 miliar. 

Sementara itu berdasarkan data Trade Map di tahun 2021, Uni Eropa mengimpor CPO senilai USD 2,5 miliar. Mereka juga mengimpor produk karet Indonesia hingga USD 1 miliar. 

Selain itu, Uni Eropa juga mengimpor produk besi dan baja senilai USD 477 juta, produk kayu olahan senilai USD 414 juta, dan timah senilai USD 173 juta.  [idr]

Baca juga:
Jokowi Kaget, Ternyata Banyak Negara Bergantung Pada Indonesia
Jokowi: Belum Ada Sejarahnya Kita Surplus Neraca Perdagangan, Sekarang Sudah 30 Kali
Kalah Gugatan di WTO, Siap-Siap Pajak Ekspor Nikel Bisa Naik
BPS Beberkan Biang Kerok Harga Tahu dan Tempe Terus Naik
UMKM Temanggung Kirim Produk Pewarna Alam ke Luar Negeri, Permintaan Hingga 1 Ton
Hingga Kuartal III-2022, Industri Besi & Baja Genjot Ekspor Hingga 39,55 Persen

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini