Tanggapan Bank Indonesia Soal Pelemahan Rupiah Saat ini

Kamis, 19 Maret 2020 17:15 Reporter : Anisyah Al Faqir
Tanggapan Bank Indonesia Soal Pelemahan Rupiah Saat ini Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. ©2020 Istimewa

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga 18 Maret 2020, Rupiah mengalami pelemahan rerata 5,18 persen dibandingkan dengan Februari 2020. Rupiah dibandingkan dengan level akhir 2019 terdepresiasi sekitar 8,77 persen.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pelemahan Rupiah terjadi seiring dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya.

"Secara point to point harian melemah sebesar 5,72 persen," katanya saat membacakan hasil Rapat Dewan Gubernur di Kantor Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (19/3).

Perry melanjutkan, kondisi ini merupakan akibat penyesuaian modal asing di pasar keuangan domestik pasca meluasnya virus corona. Investor asing bergerak lantaran ketidakpastian pasar keuangan global.

"Dampaknya telah memberikan tekanan kepada nilai tukar Rupiah, yang melemah sejak pertengahan Februari 2020," tutur Perry.

Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerja mekanisme pasar. Untuk itu, pihaknya terus meningkatkan intensitas stabilisasi di pasar DNDF, pasar spot, dan pembelian SBN dari pasar sekunder.

Guna mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar, Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan operasi moneter. Hal ini agar memastikan bekerjanya mekanisme pasar dan ketersediaan likuiditas baik di pasar uang maupun valas.

1 dari 1 halaman

Rupiah Dekati Rp 16.000/USD Imbas Pasar Ragu Penanganan Virus Corona Pemerintah

rp 16000usd imbas pasar ragu penanganan virus corona pemerintah

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) terus mengalami tekanan dalam beberapa hari belakangan. Melansir Bloomberg, Rupiah saat ini diperdagangkan pada level Rp15.315 per USD.

Sementara itu, perbankan dalam negeri sudah mulai menjual Rupiah mendekati Rp16.000. Salah satunya, Bank BCA yang mematok kurs jual pada angka Rp15.965 per USD.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, mengatakan pelemahan Rupiah tersebut disebabkan oleh kondisi dunia yang masih sangat panik oleh penyebaran Virus Corona. Dari dalam negeri sendiri, pasar masih meragukan cara pemerintah menangani Covid-19.

"Pasar apatis terhadap kesiapan pemerintah Indonesia menangani Virus Corona. Wajar kalau Rupiah ke 16.000 apakah bisa tembus di atas 16.000 bisa saja. Tapi angka Rp16.000 ini adalah angka kunci kalau menyentuh bisa lebih parah lagi," ujarnya kepada merdeka.com di Jakarta, Kamis (19/3).

Ibrahim mengatakan, pemerintah tergolong lamban dan tidak siap dalam menangani Virus Corona. Padahal, negara-negara lain saat ini sudah melewati masa panik serta siap menghambat agar tidak semakin banyak korban yang berjatuhan.

"Dari dalam negeri sendiri, tadi malam diumumkan bahwa yang terjangkit virus corona itu sudah cukup signifikan. Dan yang meninggal juga sampai tadi malam ada lagi penambahan. Artinya virus corona di Indonesia ini sekarang sedang berjuang," jelasnya.

"Indonesia sedang berjuang kalau negara lain sekarang itu sedang menghambat bagaimana Virus Corona ini bisa dihambat. Indonesia adalah salah satu negara yang telat. Pada saat negara lain sudah mempersiapkan diri menahan laju Corona Indonesia masih tenang tenang saja," tambahnya.

[bim]

Baca juga:
Akibat Covid-19, Rupiah Terjun ke Level Terendah
Fakta Lengkap Virus Corona Bikin Rupiah 15.790 per Dolar, Harga Minyak & Emas Anjlok
Rupiah Dekati Rp 16.000/USD Imbas Pasar Ragu Penanganan Virus Corona Pemerintah
Terus Melemah, Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp15.222 per USD
Nilai Tukar Rupiah Terus Anjlok, Tembus Level Rp15.127 per USD
Penurunan Suku Bunga The Fed Bikin Rupiah Melemah ke Rp15.000 per USD
Menko Luhut soal Rupiah Melemah: Saya Kira Harus Terjadi, Tidak Apa-Apa

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini