KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Tak melulu negatif, reklamasi Teluk Benoa juga bawa kebaikan

Jumat, 18 Maret 2016 10:42 Reporter : Novita Intan Sari
Teluk Benoa. ©2016 merdeka.com/hana adi

Merdeka.com - Suara penolakan dan dukungan terhadap proyek reklamasi yang terjadi di beberapa daerah seperti Teluk Palu di Sulawesi Utara, sekitar pantai Losari di Makassar, Sulawesi Selatan, Pantai Utara Jakarta serta Teluk Benoa di Bali makin hingar bersahutan.

Pengamat Bisnis dan Ekonomi Sosial, Nyoman Cakra, menilai proyek reklamasi yang akan dilakukan tidak bisa secara parsial, akan tetapi harus dilihat secara holistik. Sebab, reklamasi terdiri dari berbagai sisi yang saling berkaitan satu sama lain.

"Memang ada dampak negatif dari reklamasi itu, tapi juga ada dampak positifnya," ujarnya dalam keterangan tulis, Jakarta, Jumat (18/3).

Menurutnya, diantara dampak positif dari reklamasi adalah dibuatnya destinasi wisata yang ikonik. "Sehingga dengan destinasi yang ikonik, tentu akan banyak menarik wisatawan untuk datang ke daerah tersebut," jelas dia.

Kedatangan wisatawan menurutnya akan berbanding lurus dengan meningkatnya tingkat hunian hotel, dan masyarakat lah yang akhirnya merasakan manfaat dari hal itu. Manfaat itu antara lain akan terbuka lapangan kerja yang baru, bertambah peluang bisnis dan investasi, selain itu pemerintah mendapat penambahan PAD.

"Dan yang terpenting masyarakat akan mengalami peningkatan income perkapita, karena berdasarkan penelitian saya, setiap wilayah yang berkembang wisatanya, masyarakatnya mengalami peningkatan income perkapita sehingga daya beli masyarakat meningkat, dengan meningkatnya daya beli masyarakat maka perekonomian pun akan melaju dan bergairah," ungkapnya.

Kendati demikian, Nyoman memberikan catatan khusus terkait dengan dampak negatif yang mungkin muncul dengan dilakukannya reklamasi, yakni persoalan lingkungan.

"Itu yang benar-benar harus dikaji, jangan sampai ada dampak negatif untuk lingkungan, nah di sini para ahli harus benar-benar melakukan kajian terhadap dampaknya, kalau memang ada dampak negatif, apa solusinya," tegas dia.

Menurut Nyoman, yang selama ini melakukan penolakan terhadap rencana reklamasi di berbagai daerah, selain para aktivis lingkungan juga kebanyakan berasal dari masyarakat terdampak, misalnya di Jakarta yang bergerak kelompok nelayan tradisional, di Bali awalnya bermula dari desa-desa adat.

"Nah, pemrakarsa reklamasi harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa ada solusi untuk dampak negatif yang mungkin timbul, caranya dengan banyak-banyak dialog dengan masyarakat. Dengarkan aspirasi dan kekhawatiran mereka," kata dia.

Selain itu, dia juga menyoroti persoalan izin pada proyek reklamasi. Para pengembang harus benar-benar mentaati proses perizinan. Karena akan menjadi persoalan tambahan jika perizinan proyek reklamasi ternyata bermasalah seperti yang terjadi di Jakarta, kelompok nelayan tradisional menggugat Gubernur DKI Jakarta karena izin reklamasi tiga pulau, yakin pulau F, I dan K dianggap menyalahi aturan lantaran diterbitkan tanpa sepengetahuan publik.

"Dari sisi perizinan kan urusan pemerintah, nah ini harus melalui proses yang benar. Jadi berbagai macam persyaratan harus terpenuhi sebelum reklamasi dilaksanakan, ini sangat penting," imbuh Nyoman.

Menurutnya sangat wajar jika pro-kontra terjadi, namun pemerintah seharusnya tidak membiarkan persoalan ini berlarut-larut, karena dikhawatirkan konflik sosial akan meluas.

"Karena apapun yang dibuat pasti ada pro-kontra, nah dialog yang menjadi kuncinya. Semua pihak baik yang pro atau yang kontra terhadap reklamasi harus mau duduk bersama dengan kepala dingin, jangan sampai kita semua menjadi korban pihak ketiga, ini yang saya khawatirkan," tutupnya. [bim]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.