Tahun ini PT Berdikari ikut impor sapi Australia

Kamis, 2 Januari 2014 14:43 Reporter : Nurul Julaikah
Tahun ini PT Berdikari ikut impor sapi Australia sapi. shutterstock

Merdeka.com - Tahun ini, PT. Berdikari (Persero) yang merupakan perusahaan pengembangan penggemukan sapi, akan melakukan ekspansi mengimpor sapi dari Australia. Tahun-tahun sebelumnya, perusahaan pelat merah ini hanya fokus menggemukkan sapi lokal.

"Kita masih sedikit. Kita masih mainnya sapi lokal. Sekarang impor juga. Tahun ini kita coba pelihara sapi impor. Sekarang harga sapi sendiri di Australia lagi end of season mahal-mahalnya," ujar Dirut PT. Berdikari (Persero), Librato El Arif di kantornya, Jakarta, Kamis (2/1).

Selama ini penggemukan sapi hanya dilakukan di Sulawesi. Tetapi, untuk ke depannya akan dilakukan di Jawa Barat, Serang, Jawa Timur dan Jawa Tengah. "Nanti kalau pemerintah mau intervensi pasar. Sekarang kan orang masih percayanya daging itu yang basah di pasar," ucapnya.

Keterlibatan Berdikari dalam impor sapi diklaim sebagai upaya ikut menstabilkan dan menjaga harga daging sapi di pasar dalam negeri.

"Pemerintah harus punya stok sapi hidup. Sapi jantan dan bakalan yang siap potong. Seharusnya BUMN punya stok itu sehingga Insya Allah dengan kita masuk ke situ nanti pada saat Ramadhan kita sudah bisa sediakan," jelasnya.

Target untuk penggemukan sapi tahun ini sebanyak 60.000 ekor. Untuk harga sapi, Librato mengaku akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar dolar AS.

"Untuk harga daging sapi hidup per kilonya Rp 38.000-39.000. Naik dari Rp 34.000. Kalau di Jawa Timur 40.000 itu karena pengaruh dolar,"ucapnya.

Dia menyebutkan, selama ini Berdikari hanya memiliki kapasitas menggemukkan 13.000 ekor sapi. "Dalam satu tahun itu setiap tiga bulan kita potong. Tapi kita ada investasi kandang dan sewa, kerjasama Mou ada tambahan 6000 ekor itu baru kerjasama belum investasi,"jelasnya.

Selain penggemukan sapi, Berdikari juga memiliki Rumah Potong Hewan (RPH) di Cibitung Jawa Barat yang baru berjalan empat bulan ini. Kapasitas dari RPH tersebut dapat mencapai 100 ekor per hari.

"Kenapa belum bisa seratus persen kemarin harus didaftarkan dulu dengan standar Australia. Kalau dulu sebelum sapi dipotong harus standar australia,"jelasnya

Berdikari menggandeng Kementerian Pertanian untuk pembinaan dan bermitra dengan peternak sapi. Untuk diketahui, Berdikari mulai mengubah industri hilir pengembangan usaha. Salah satu hasilnya adalah Bakso dan Sosis. Untuk RPH, Berdikari mengklaim telah melakukan pemotongan daging secara higienis.

"Sekarang orang konsumsi belum sempurna belum dichil. Sekarang habis dipotong langsung dibawa ke pasar kurang bagus. Dan standarnya enggak boleh kena tanah. Kalau di tempat kita tidak kena tanah. Di pasar kurang higienis," jelasnya. [noe]

Baca juga:
Upaya akhiri penjajahan sapi Australia cuma wacana
Selain daging, Indonesia juga defisit kedelai tahun depan
Daging oplosan babi beredar karena bobroknya moral pedagang
Indonesia dipastikan belum lepas dari jeratan impor sapi di 2014
Sederet masalah gara-gara tingginya harga daging sapi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini