Survei: Saat Ini Waktu Termudah Membeli Rumah

Selasa, 16 April 2019 13:50 Reporter : Idris Rusadi Putra
Survei: Saat Ini Waktu Termudah Membeli Rumah Perumahan. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Membeli rumah selalu menjadi diskusi yang menarik dalam setiap keluarga. Bukan hanya karena uang yang dibelanjakan nilainya sangat besar, membeli rumah juga menyangkut hajat hidup orang banyak. Bagi masyarakat Indonesia, lumrah sekali bahwa orang tua dan keluarga besar ingin ikut punya andil suara terhadap rumah yang akan dibeli anggota keluarga mereka.

Head of Marketing Rumah.com, Ike Hamdan mengatakan bahwa kepemilikan rumah memang sangat erat dengan kondisi sosial. Bukan semata-mata faktor penghasilan yang jadi penentu. Faktor ketersediaan juga menjadi penting untuk dipertimbangkan. Lebih dari 70 persen pembelian rumah bagi masyarakat Indonesia adalah melalui jalur KPR yang artinya melibatkan perbankan sebagai salah satu tonggak penting dari industri keuangan.

"Terlepas dari berbagai kritik atas ketidaksempurnaan pemerintah, perlu dicatat bahwa ada upaya serius secara berkesinambungan dari berbagai masa pemerintahan untuk memberikan akses lebih besar bagi kepemilikan rumah oleh masyarakat secara umum. Beberapa upaya tersebut adalah pendirian PT Sarana Multi Infrastruktur, pendirian PT Sarana Multigriya Finansial, pemberlakuan BI 7 Days Repo Rate, dan penyempurnaan ketentuan Loan to Value untuk Kredit Properti melalui berbagai Peraturan Bank Indonesia," jelas Ike.

PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (PT SMI) adalah perusahaan pemerintah yang berfokus pada pembiayaan proyek-proyek infrastruktur dengan tugas utama menjadi katalis terhadap percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia dan mendukung skema kerja sama Kemitraan Swasta dan Pemerintah (Public Private Partnership). Ini terkait erat dengan industri properti yang menjadi roda perekonomian dimana infrastruktur akan mengoptimalkan manfaat sosial dan ekonomi untuk masyarakat.

Sementara PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (PT SMF) adalah perusahaan yang dibentuk pemerintah untuk mendukung kepemilikan rumah yang layak dan terjangkau bagi setiap keluarga Indonesia. PT SMF didirikan dengan fokus untuk membangun dan mengembangkan pasar pembiayaan sekunder perumahan sehingga pada gilirannya memungkinkan kepemilikan rumah menjadi terjangkau bagi setiap keluarga Indonesia.

Bank Indonesia memberlakukan BI 7 Days (Reverse) Repo Rate sejak 19 Agustus 2016. Ini artinya, BI memberikan acuan suku bunga pasar untuk berlaku dalam rentang waktu tujuh hari sebagai pengganti BI Rate yang sebelumnya berlaku satu tahun. Dengan jangka waktu yang lebih pendek, suku bunga acuan bisa lebih mencerminkan kondisi pasar karena tak perlu menunggu setahun dimana BI 7 Days Repo Rate memiliki suku bunga/rate bisa lebih rendah atau lebih tinngi daripada BI Rate.

Melalui kebijakan ini, diharapkan dapat mengontrol tingkat suku bunga dengan efektif. Sehingga dampaknya penyaluran kredit dari bank-bank ke masyarakat menjadi lebih lancar sekaligus risiko kredit macet dapat lebih ditekan karena perubahan suku bunga acuan lebih akurat mengikuti pergerakan pasar tanpa harus menunggu setahun.

Sementara aturan tentang Loan to Value untuk Kredit Properti pertama kali dikeluarkan melalui Surat Edaran BI No 14/10/DPNP tahun 2012. Aturan ini mengalami beberapa penyempurnaan dengan besaran Down Payment (DP) yang harus dipenuhi oleh pembeli adalah mulai dari 30 persen. Aturan besaran DP minimal ini terus mengalami penurunan hingga menjadi 15 persen di tahun 2016. Melalui PBI No. 20/8/PBI/2018 tahun 2018, besaran nilai DP diserahkan pada penilaian bank.

Menurut Ike, berbagai kebijakan pemerintah tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya saat ini adalah kondisi termudah untuk membeli rumah. Selama ini kendala nomor wahid untuk membeli rumah adalah Down Payment. Dengan adanya kebijakan pemerintah tersebut, DP sekarang menjadi lebih fleksibel sehingga kendala DP seharusnya teratasi.

"Memang ada peningkatan dari sisi suku bunga. Namun berdasarkan data, tingkat suku bunga saat ini tidak lebih tinggi dari tahun 2015. Oleh karena itu, sekarang adalah saat paling mudah untuk membeli rumah," tegas Ike.

Kondisi ini juga sesuai dengan hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1-2019, dimana konsumen properti masih optimistis dengan iklim pasar properti nasional. Berdasarkan hasil survei tersebut, sebanyak 65 persen responden mengaku puas dengan kondisi pasar properti Indonesia.

Kepuasan terhadap iklim properti ini mayoritas didasarkan pada faktor kenaikan harga properti yang stabil serta apresiasi terhadap kenaikan harga properti jangka panjang. Kedua faktor ini diamini oleh 63 persen responden. Sementara 15 persen responden yang merasa tidak puas, mengungkapkan faktor kenaikan harga properti sebagai penyebabnya. Alasan lainnya adalah uang muka yang terlalu tinggi.

Ike menjelaskan bahwa faktor kenaikan harga memang selalu dipandang dari dua sisi. Bagi mereka yang optimistis, mereka melihatnya sebagai peluang investasi di masa depan, sementara mereka yang pesimistis, ini disebabkan keraguan terhadap kemampuan finansialnya. Mereka yang belum yakin dengan kemampuan kemungkinan adalah mereka yang masih awam atau kurang informasi. Padahal, saat ini pasar properti sedang berpihak kepada pembeli.

Hal ini sejalan dengan optimisme masyarakat terhadap pasar properti di tahun 2019, yang cenderung naik secara lambat. Sesuai Rumah.com Property Index terjadi kenaikan index harga properti sebesar 2,9 persen atau 3,1 poin dari kuartal keempat (Q4) 2017 ke Q4 2018. Sedangkan di sisi suplai terjadi penurunan sebesar 17 persen pada Q4 2018 (quarter-on-quarter) dan sebesar 0,9 persen (year-on-year). Penurunan ini adalah siklus tahunan karena para pengembang enggan meluncurkan proyek mereka di akhir tahun karena konsumen cenderung fokus berbelanja jelang akhir tahun.

Data Rumah.com Property Index ini memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di Indonesia, karena merupakan hasil analisis dari 400.000 listing properti dijual dan disewa dari seluruh Indonesia, dengan lebih dari 17 juta halaman yang dikunjungi setiap bulan dan diakses oleh lebih dari 5,5 juta pencari properti setiap bulannya.

"Pengembang properti, tentu tidak menutup mata terhadap kondisi pasar dan berbagai kemudahan saat ini. Karena itu mereka juga melakukan penyesuaian target pasar dengan memperbesar suplai untuk kalangan menengah. Tak perlu cemas, dengan rajin mencari informasi dan melakukan pertimbangan yang tepat, masyarakat akan bisa memiliki rumah," pungkas Ike. [idr]

Topik berita Terkait:
  1. Perumahan
  2. Properti
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini