Survei: Mayoritas Masyarakat Indonesia Minimal Gunakan 3 Dompet Digital

Rabu, 15 Januari 2020 13:27 Reporter : Merdeka
Survei: Mayoritas Masyarakat Indonesia Minimal Gunakan 3 Dompet Digital Managing Director IPSOS Indonesia Soeprapto Tan. ©2020 Liputan6.com/Tira Santia

Merdeka.com - Ipsos Indonesia mencatat pertumbuhan pesat pembayaran digital di masyarakat sepanjang 2019. Hal ini terungkap dari hasil survei Ipsos Indonesia terkait riset kebiasaan masyarakat Indonesia terhadap penggunaan alat pembayaran digital.

"Di mana menurut data dari Bank Indonesia, selama tahun 2019 saja telah terjadi 4,7 juta jumlah transaksi cashless, dan Rp 128 triliun volume transaksi cashless di Indonesia, sehingga evolusi pembayaran sudah terjadi dengan pesatnya," kata Managing Director Ipsos Indonesia, Soeprapto Tan, dalam ajang Ipsos Marketing Summit 2020: Indonesia The Next Cashless Society, Pullman Jakarta Central Park, Jakarta, Rabu (15/1).

Tentunya hal itu dipengaruhi oleh kehadiran teknologi dan digitalisasi di Indonesia, yang mampu mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan alat pembayaran.

Survei itu dilakukan ke 1.000 responden yang bermukim di pulau Jawa 66 persen, Sumatera 21 persen, Kalimantan 6 persen, Sulawesi 4 persen, Bali 4 persen dan Nusa Tenggara 1 persen. Hasilnya terungkap beberapa fakta menarik, bahwa sebanyak 25 persen responden menggunakan pembayaran digital, karena memberikan pengalaman yang menyenangkan, dan sebanyak 26 persen karena merasa lebih aman, nyaman dan yakin.

Melalui Studi The Next Cashless Society, menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya menggunakan satu jenis dompet digital, karena hanya sebanyak 21 persen, sementara 28 persen menggunakan dua jenis dan 47 persen menggunakan tiga jenis atau lebih, dan dompet digital yang paling digunakan adalah OVO dan Gopay.

Penelitian juga mengungkapkan pola kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kartu non tunai, terungkap e-money, dan Flazz merupakan kartu yang paling sering digunakan dalam bertransaksi. Di mana sebanyak 47 persen hanya memiliki satu kartu, 30 persen memiliki dua kartu dan 23 persen memiliki tiga atau lebih kartu non tunai.

Penggunaan non tunai ini dimanfaatkan masyarakat, untuk melakukan berbagai transaksi keuangan seperti berbelanja online, membayar tagihan listrik, membayar makanan di restoran, membayar penggunaan alat transportasi, menonton bioskop dan berbagai layanan perbankan digital.

1 dari 1 halaman

Motivasi Masyarakat Gunakan Pembayaran Digital

Diketahui terdapat tiga segmen motivasi masyarakat memilih alat pembayaran non-tunai, yakni konsumen yang tidak takut akan pembayaran non tunai (reassure), konsumen yang menikmati pembayaran non tunai dan memperkaya hidup (encourage), serta konsumen yang beranggapan bahwa pembayaran non tunai adalah hal baru yang mengikuti perkembangan zaman (inspire).

Dari hasil studi tersebut terlihat bahwa masyarakat Indonesia saat ini, sudah mulai terbiasa dengan pembayaran non tunai dalam kehidupan mereka sehari-hari.

"Dengan berbagai motivasi penggunaan pembayaran non-tunai tersebut, menunjukkan ke depannya jumlah pengguna layanan pembayaran digital akan semakin melesat, dan hal ini harus disiapkan ekosistem yang semakin mumpuni baik dari sisi pemerintah, Infrastruktur dan juga swasta," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
BCA: Terapkan QRIS, WeChat Pay Bisa Segera Beroperasi
Jalin Kerja Sama, Nasabah Pegadaian Bisa Bayar Transaksi Pakai OVO
Percetakan Uang Kertas dan Logam Masih Tinggi di Era Transaksi Digital
Urai Antrean, Ancol Gandeng Bank DKI Terapkan Transaksi Non Tunai
Wapres Ma'ruf Amin Sarankan Ovo Bantu Perekonomian UMKM dan Syariah
BI Fokus Perkuat Instrumen Kebijakan Sistem Pembayaran Digitald
Bantah Lippo Jual Saham, Ini Penjelasan Lengkap Presiden Direktur OVO

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini