Survei: Jual Aset & Berutang ke Tetangga Jadi Opsi Bertahan di Tengah Pandemi

Kamis, 17 Desember 2020 14:07 Reporter : Anisyah Al Faqir
Survei: Jual Aset & Berutang ke Tetangga Jadi Opsi Bertahan di Tengah Pandemi Angka Kemiskinan di Indonesia Naik. ©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Ketersediaan pangan nasional selama pandemi Covid-19 berada di tengah. Artinya tidak dalam kondisi ketahanan pangan yang buruk, tetapi juga tidak berada dalam kondisi pangan yang baik.

Berangkat dari hal tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) beberapa waktu lalu membuat survei cepat untuk mengetahui kondisi ketahanan pangan penduduk . Dalam survei cepat tersebut, menunjukkan 35,93 persen responden berada dalam kondisi rawan pangan (food insecure).

"Menghasilkan temuan 35,93 persen responden dalam kondisi food insecure," kata Peneliti Puslit Ekonomi, LIPI, Purwanto dalam Media Briefing: Outlook Perekonomian 2021, Jakarta, Kamis (17/12).

Responden tersebut terbagi menjadi empat kategori kerawanan pangan. Pertama, sebanyak 23,84 persen responden berada dalam kondisi marginal food security yang berarti mengalami kondisi ketidaktahanan pangan pada beberapa situasi dan kondisi pangan rumah tangga.

Kedua, sebanyak 12,09 persen responden dalam kondisi ketahanan pangan rumah tangga yang rendah. Artinya, seringkali menghadapi kondisi ketidaktahanan pangan. Ketiga, sebanyak 10,14 persen berada dalam kondisi low food security (LFS) dan keempat 1,95 persen berada di kondisi very low food security (VLFS).

"Karakteristik responden dalam kondisi LFS dan VLFS merupakan responden dengan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan tidak tetap dan tingkat pendapatan rendah," tutur Purwanto.

Selama pandemi berlangsung, responden kelompok ini bertahan dengan mengambil tabungan bagi mereka yang memiliki tabungan. Ini dialami oleh 23 persen responden kelompok LFS dan 20 responden kelompok VLFS.

Ada juga yang menjual aset berharga yang dimiliki untuk bertahan hidup. Antara lain, dilakukan 16 persen responden kelompok LFS dan 25 persen kelompok VLFS. Sedangkan yang menggunakan jalur berutang untuk memenuhi kebutuhan yakni 18 persen responden LFS dan 13 persen responden VLFS.

"Strategi yang dilakukan ini mengambil tabungan, menjual aset atau berutang kepada tetangga, saudara atau yang lainnya," kata dia.

Sementara itu, hasil survei juga menunjukkan sebanyak 64,07 persen responden berada di kelas high food security. Artinya ketahanan pangan bagi sebagian responden tidak begitu menjadi masalah.

Strategi yang dilakukan kelompok ini untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhannya dengan mengurangi belanja konsumsi seperti membeli makanan di restoran atau melakukan kegiatan konsumsi lainnya. Hal ini terjadi juga seiring dengan kebijakan pembatasan yang diterapkan pemerintah setempat.

Sehingga dalam survei yang sama menunjukkan tabungan kelas menengah atas ini menunjukkan trend kenaikan karena adanya perubahan gaya hidup.

"Ada hal yang perlu diperhatikan data tabungan menengah atas ini menunjukkan kenaikan positif karena setting atau perubahan pola hidup," kata dia.

Sebagai informasi, survei cepat yang dilakukan LIPI ini melibatkan 1.489 responden yang dilakukan selama 15 September - 5 Oktober 2020. Dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner secara daring. Adapun karakteristik responden yaitu anggora rumah tangga baik pencari nafkah atau bukan dengan usia di atas 17 tahun. [rnd]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini