Survei: 69 persen masyarakat NTT masih numpang rekening bank

Rabu, 26 Juli 2017 12:32 Reporter : Idris Rusadi Putra
Survei: 69 persen masyarakat NTT masih numpang rekening bank

Merdeka.com - Pejabat Bank Mandiri Cabang Kupang memaparkan hasil survei yang menyebut hanya 31 persen responden di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah memiliki rekening bank, dan sisanya 69 persen masih menggunakan rekening bank milik pihak lain.

"Survei yang dilakukan Bappenas bekerja sama dengan Pemerintah Australia dan Swiss bertajuk Survey on Financial Inclusion and Access menemukan data hanya 31 persen responden di NTT telah memiliki rekening bank, dan sisanya 69 persen menggunakan rekening bank milik pihak lain," kata Head Area Bank Mandiri Kupang Herinaldi, seperti ditulis Antara Kupang, Rabu (26/7).

Survei yang dilakukan terhadap 20.000 responden pada 1.250 desa, di 93 kabupaten empat provinsi, yakni Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTT, dan NTB untuk mengetahui animo masyarakat memasuki digital banking yang tengah memasyarakat untuk kelancaran transaksi.

Pada sisi lain dari survei itu, penduduk dewasa yang menggunakan jasa keuangan semiformal (tidak diatur dan diawasi seperti koperasi simpan pinjam) di NTT mencapai 23 persen, Jawa Timur 125 persen, NTB 7 persen, dan Sulsel 5 persen.

Saat ini, industri perbankan tengah memaksimalkan digital banking sebagai sarana atau layanan perbankan yang disediakan oleh industri perbankan maupun non-perbankan untuk memperlancar transaksi sektor keuangan sebagai salah satu solusi masyarakat memilih menyimpan uang di bank.

"Masyarakat NTT perlu diberikan pemahaman serta dibiasakan untuk melakukan transaksi keuangan melalui perbankan. Sebab hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum terbiasa dengan transaksi melalui bank," katanya lagi.

Menurut dia, kondisi itu bertentangan karena pada era kekinian kebanyakan orang menggunakan atm sebagai layanan digital banking yang paling umum.

Selain itu, kata dia lagi, ada juga kartu kredit, e-Money, kemudian sekarang ada agen laku pandai sebagai Agen Lembaga Keuangan Digital (LKD) yang sudah dalam frame manajemen Bank Indonesia sering disebut sebagai inklusi keuangan.

Tingkat pengoptimalan Program Digital Banking ini penting dilakukan, mengingat beberapa bulan lalu masyarakat diganggu dengan investasi bodong. Penyebabnya karena masyarakat belum dibiasakan untuk melakukan transaksi perbankan.

"Tujuannya adalah agar masyarakat di desa dapat berinteraksi secara langsung dengan pihak perbankan, sehingga menjadi terbiasa ketika Program Digital Banking ini telah memasyarakat dan masyarakat tidak gagap teknologi," katanya pula.

Dia menegaskan bahwa perkembangan teknologi kian mendorong perbankan untuk berinovasi dan menciptakan layanan tanpa kantor alias digital banking. "Perkembangan layanan keuangan digital ini akan berdampak positif bagi potensi pertumbuhan perekonomian di NTT," kata dia. [idr]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini