KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Sulawesi bakal jadi penyumbang kelas menengah terbesar Indonesia

Rabu, 6 Maret 2013 12:29 Reporter : Ardyan Mohamad
Ilustrasi orang kaya. ©shutterstock.com/Minerva Studio

Merdeka.com - Saat ini, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia mencapai 30 persen. Boston Consulting Group (BCG) memperkirakan jumlahnya akan melonjak dua kali lipat pada 2020, dengan konsentrasi pertumbuhan masyarakat berpenghasilan Rp 2-7,5 juta tidak lagi berada di Jabodetabek.

Managing Director BCG Vaishali Raistogi memprediksi pertumbuhan kelas menengah tertinggi untuk periode tujuh tahun mendatang terjadi di Sulawesi. Pertumbuhannya lebih dari 5 juta jiwa alias 109 persen dari jumlah saat ini yang baru di kisaran 4 juta jiwa.

"Sekitar 47 persen kelas menengah baru di Indonesia akan datang dari luar Jawa, dengan Sulawesi memiliki pertumbuhan paling pesat," ujarnya di Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Rabu (6/3).

Meski demikian, Rastogi mengakui Jabodetabek akan tetap menjadi daerah yang melahirkan banyak kelas menengah. Setidaknya, 12 juta jiwa kelas menengah lahir pada 2020. Sementara dari Sumatera akan mendapat tambahan 7 juta jiwa kelas menengah baru yang berasal dari Padang, Medan, Palembang, dan Riau, serta puluhan kabupaten lain.

Konsekuensi dari perkembangan itu adalah semakin pentingnya kabupaten-kabupaten kecil di luar Jawa. Sebab, seiring pertambahan kelas menengah, banyak kota kecil dan kabupaten akan naik kelas dan memiliki populasi penduduk yang berpenghasilan tinggi lebih dari 500.000 jiwa.

Saat ini, baru 12 kota besar Tanah Air memiliki lebih dari 1 juta kelas menengah. Jumlah itu tujuh tahun mendatang melonjak hingga 22 kota, dengan beberapa kota paling menonjol adalah Makassar, Batam, Semarang, Semarang, dan Padang.

Analisis BCG Eddy Tamboto menambahkan, prediksi ini sejak sekarang harus dihadapi perusahaan konsumer. Pertumbuhan kelas menengah otomatis berkaitan dengan peningkatan penjualan produk seperti sepeda motor, AC, televisi, dan ponsel pintar.

Saat ini, perusahaan konsumer yang ingin menguasai 50 persen pasar hanya perlu melakukan penetrasi ke 25 kota dan kabupaten. Dengan proyeksi BCG, strategi itu perlu diubah.

"Setiap perusahaan konsumer nantinya harus menyiapkan jaringan ritel di 42 kota dan kabupaten, itu akan menjadi tantangan, karena berkaitan dengan kemampuan perusahaan menyiapkan infrastruktur, tenaga kerja, dan distributor," kata Eddy.

BCG meneliti 3.950 keluarga di 31 kabupaten dan kota selama sembilan bulan terakhir. Lembaga ini juga meneliti pola pembelian 20 produk konsumer dalam periode tersebut.

Untuk definisi kelas menengah, BCG menilai warga yang masuk kategori ini adalah penduduk dengan pengeluaran belanja Rp 2 juta sampai lebih dari Rp 7,5 juta per bulan. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Ekonomi Indonesia

Rekomendasi Pilihan

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.