Strategi RI hadapi krisis 2008 dan jadi negara dengan pertumbuhan tertinggi ke-3

Jumat, 26 Oktober 2018 10:45 Reporter : Idris Rusadi Putra
Strategi RI hadapi krisis 2008 dan jadi negara dengan pertumbuhan tertinggi ke-3 Muliaman Darmansyah Hadad diperiksa KPK. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Mantan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kini menjadi Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman Hadad, membeberkan strategi Indonesia menghadapi krisis global saat memberikan kuliah umum berjudul ‘Global Financial Reform and Crisis Management Protocols: Indonesia’s Experience’ di World Trade Institute (WTI) Universitas Bern. Dubes Muliaman membeberkan respons Indonesia menghadapi krisis global di hadapan sekitar 50 orang professor dan mahasiswa WTI.

Muliaman menyampaikan, Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara yang memiliki ketahanan ekonomi yang kuat dalam menghadapi krisis ekonomi global tahun 2008. Tidak hanya melewati krisis global 2008 dengan selamat, satu dekade pasca krisis ekonomi global 2008, pertumbuhan rata-rata ekonomi Indonesia tertinggi ke-3 bagi negara anggota G-20 atau stabil di atas 5 persen per tahun dan memiliki Gross Domestic Product (GDP) lebih dari USD 1 triliun.

"Krisis datang dan pergi tanpa kita undang. Pertanyaannya bagaimana kesiapan kita dalam menghadapi krisis yang masalahnya bisa bersumber dari faktor internal atau eksternal," ujar Dubes Muliaman yang juga merupakan Guru Besar Ekonomi Universitas Diponegoro itu.

Setelah terjadinya Krisis Keuangan Global, G-20 meluncurkan program reformasi keuangan yang komprehensif untuk meningkatkan ketahanan Sistem Keuangan Global, pada saat yang sama juga menciptakan struktur pasar yang lebih terbuka dan terintegrasi.

Bagi Indonesia, menurut Dubes Muliaman, pertumbuhan ekonomi negara berkembang membutuhkan dukungan stabilitas politik dan ekonomi. Di sektor keuangan, stabilitas tersebut sangat ditentukan oleh efektivitas supervisi, regulasi, dan koordinasi antara pemerintah dan para pelaku ekonomi.

"Stabilitas menjadi persyaratan penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Diperlukan penyederhanaan regulasi yang dapat menghambat efektivitas reformasi keuangan," papar Muliaman.

"Selain itu, pengawasan dan koordinasi juga sangat penting, di samping penyederhanaan regulasi sektor keuangan."

Kuliah umum Dubes Muliaman tentang kesiapan Indonesia menghadapi krisis ekonomi global disambut dengan antusiasme yang tinggi dari para civitas akademika WTI. Direktur WTI, Professor Peter Van den Bossche, menyampaikan apresiasi atas kesediaan Dubes Muliaman memberikan pencerahan dan perspektif lain tentang pemerintahan ekonomi dunia.

"Pengalaman panjang Prof. Muliaman di Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, ditambah dengan pengalaman akademik beliau, merupakan kehormatan sekaligus keuntungan bagi WTI untuk mendengarkan ceramah beliau langsung," ujar Professor Peter Van den Bossche.

Ditambahkan oleh Rebecca Gilgen, Koordinator Akademik WTI, bahwa antusiasme para mahasiswa sangat tinggi sekali mendengarkan ceramah Prof. Muliaman. "Jarang sekali kita dapati seorang Professor yang juga memiliki karir panjang di sektor keuangan dan juga seorang duta besar." [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini