Strategi Pemerintah Jaga Daya Beli Masyarakat di Tengah Tingginya Harga Komoditas

Jumat, 13 Mei 2022 13:59 Reporter : Anisyah Al Faqir
Strategi Pemerintah Jaga Daya Beli Masyarakat di Tengah Tingginya Harga Komoditas Supermarket. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan tahun ini tantangan yang dihadapi pemerintah bukan lagi mengatasi dampak pandemi Covid-19. Melainkan menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan inflasi yang juga dialami berbagai negara dunia.

"Kalau tahun 2020 dan 2021 tugas berat kita jaga kondisi kesehatan masyarakat. Tahun 2022 ini kesehatan masyarakat relatif baik. Maka fokus APBN sekarang pada kesehatan daya beli masyarakat," kata Febrio dalam Taklimat Media, Tanya BKF: Mengoptimalkan Sumber Pertumbuhan Ekonomi ke Depan, Jakarta, Jumat (13/5).

Dalam hal ini strategi yang dilakukan tidaklah sama. Instrumen APBN kali ini akan menjaga daya beli masyarakat sebagai syok absorber.

Pada konteks ini Febrio mengatakan pemerintah akan memanfaatkan kenaikan harga komoditas. Sehingga pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi akan terus berlanjut tahun ini di tengah ancaman kenaikan inflasi.

"Kabar gembira dengan komoditi boom dinikmati sekarang pada penerimaan APBN naik. Sehingga bisa dipastikan pemerintah bisa menjaga daya beli masyarakat," kata dia.

Tak hanya itu, dalam waktu bersamaan pemerintah akan menekan defisit APBN menjadi lebih rendah menuju 3 persen. Sebagaimana diketahui pada tahun 2021 defisit APBN berhasil ditekan di bawah 5 persen. Dalam kesempatan ini pemerintah juga akan memanfaatkan agar APBN kembali sehat setelah sejak tahun 2020 bengkak.

"Defisit tahun 2021 4,57 persen, kami harapkan outlook di 2022 defisit akan lebih baik dan ini tentu tidak mudah," katanya.

2 dari 2 halaman

Tantangan Tahun ini Makin Berat

ini makin berat rev1

Febrio mengakui, tantangan tahun ini semakin berat. Ancaman kenaikan inflasi membuat pemerintah terus memantau kenaikan harga setiap hari dan per pekan. Kondisi tersebut terjadi ditengah banyaknya potensi pertumbuhan ekonomi yang besar.

"Bukan hanya konteks ekspor tinggi karena komoditas tapi bagaimana struktur pertumbuhan ekonomi kita sudah banyak berubah kearah sehat," kata dia.

Saat ini sektor manufaktur lebih berdaya saing. Pemerintah juga memberikan kemudahan usaha dengan adanya reformasi struktural dalam beberapa tahun terakhir. Kemudian rencana dan eksekusi hilirisasi produk hasil tambang.

"Ini akan membuat buat perekonomian tumbuh dengan kuat di tahun 2022 dan beyond. Diharapkan tantangan kedepan ini harus dikelola dengan baik minggu ke minggu hari ke hari," kata dia mengakhiri.

Baca juga:
Survei Google: Pembelian Bahan Pokok Secara Online Meningkat
Survei BI: Keyakinan Konsumen pada Perekonomian RI Naik di April 2022
Frekuensi Belanja Masyarakat Meningkat Tajam di Ramadan 2022
Pemerintah Diminta Lakukan Ini Agar Daya Beli Tetap Stabil Pasca Lebaran
Harga-Harga Tengah Mahal, Realisasi Anggaran PEN Perlindungan Sosial Melonjak
Ini yang Terjadi pada Rakyat Saat Harga Pertalite, Solar dan Tarif Listrik Naik
Survei: 51 Persen Masyarakat Asia Tenggara Lebih Sering Belanja Online

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini