Strategi Genjot Produksi Minyak Blok Rokan yang Sudah Berusia 70 Tahun

Kamis, 22 Juli 2021 20:30 Reporter : Idris Rusadi Putra
Strategi Genjot Produksi Minyak Blok Rokan yang Sudah Berusia 70 Tahun Ilustrasi Migas. shutterstock.com

Merdeka.com - SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) optimis produksi migas Blok Rokan di Provinsi Riau dapat meningkat kembali melalui usaha-usaha yang akan dilakukan setelah masa alih kelola serta dukungan semua pihak. Meski demikian, diakui butuh waktu dan usaha untuk pencapaiannya.

Wakil Kepala SKK Migas, Fatar Yani Abdurrahman mengatakan, pandemi Covid-19 memang telah memukul seluruh industri. Namun terpukulnya industri hulu migas tidak separah beberapa industri lain.

"Kinerja hulu migas yang dapat dijaga, memberikan kontribusi yang besar pada penerimaan negara yang saat ini sangat membutuhkan pembiayaan dalam penanggulangan Covid-19," kata Fatar Yani pada diskusi 'Menjaga Keandalan Operasi Wilayah Rokan' dikutip dari Antara di Jakarta, Kamis (22/7).

Menurut Fatar Yani, blok migas yang berkontribuasi paling lama di Indonesia dan masih memiliki potensi yang menarik adalah Blok Rokan. Blok Rokan telah menjadi tulang punggung produksi minyak nasional selama 70 tahun sejak berproduksi pertama kali pada 1951. Nasib blok tersebut telah ditentukan sejak 2018. Saat itu masih top producer sehingga proses transisi dimulai dalam waktu yang panjang.

"Maka transisi yang panjang ini dapat dilakukan secara seamless dan tidak ada kendala. Blok Rokan juga memiliki potensi cadangan dalam bentuk unconventional. Sumur yang paling banyak dioperasikan di Rokan ada 10.000 sumur, yang beroperasi saat ini sekitar 8 ribuan," ujarnya.

Fatar menilai, strategi dalam pengelolaan blok Rokan pasca-transisi untuk jangka pendek pada 2021 adalah mempertahankan produksi dan transisi yang sukses ke PHR. Sedangkan periode 2022-2025 adalah upaya peningkatan produksi dengan investasi yang signifikan termasuk telah berproduksinya Chemical EOR di Minas. Jangka panjang pada 2026 adalah produksi yang tinggi sesuai long term plan (LTP) PHR Rokan.

"Mengingat kontribusi Blok Rokan yang sangat besar tersebut, pemerintah bersama SKK Migas telah memberikan perhatian ketika blok ini dalam proses peralihan dari kontraktor Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke PHR. Untuk menjaga agar produksi Blok Rokan tetap tinggi dan bisa dijaga secara optimal, telah ditandatangani Head of Agreement (HOA) antara SKK Migas dan CPI pada 28 September 2020," ujar Fatar.

Di sisi lain, PSC Rokan tidak mengatur pencadangan dana pemulihan pasca tambang atau Abandonment and Site Restoration (ASR). Dengan demikian, untuk menjaga tingkat produksi WK Rokan sangat bergantung kepada pengembalian biaya investasi. Namun, dengan adanya perjanjian Head Of Agreement (HOA) akan menjamin ketersediaan dana ASR serta pengembalian biaya investasi dapat dijamin.

Jumlah program pemboran pada masa alih kelola di HOA berjumlah 192 sumur. "Namun melihat perkembangan yang ada, target pemboran tidak tercapai. SKK Migas telah melakukan koordinasi dengan PHR agar menggenjot pemboran sumur agar target produksi dan lifting 2021 dapat dicapai," ujar Fatar.

Baca Selanjutnya: Sumbang 24 Persen Produksi Minyak...

Halaman

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. SKK Migas
  3. Migas
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini