Stok Melimpah, Perlukah Indonesia Impor Beras?

Rabu, 24 Maret 2021 08:00 Reporter : Idris Rusadi Putra
Stok Melimpah, Perlukah Indonesia Impor Beras? beras bulog. ©2020 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Pemerintah berencana akan mengimpor satu juta ton beras di tahun ini. Rencana inipun menuai penolakan dari beberapa pihak.

Namun, Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi bersedia mundur dari jabatannya apabila kebijakan untuk membuka keran impor beras 1 juta ton di tahun ini terbukti salah.

"Saya mesti mengambil keputusan pada keputusan yang tidak populer. Kalau memang saya salah, saya siap berhenti. Tidak ada masalah, saya berhenti tidak ada masalah. Tapi tugas saya memikirkan yang tidak dipikirkan oleh bapak dan ibu," terangnya dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI, ditulis Selasa (23/3).

Lutfi mengungkapkan, keputusan untuk melakukan impor guna memenuhi cadangan stok beras Bulog sebesar 1 sampai 1,5 juta ton sendiri sudah diputuskan sejak Desember 2020 lalu. Atau jauh sebelum dirinya menjabat Menteri Perdagangan.

"23 Desember 2020, sudah ada notulen rapat di tingkat kabinet. Jadi, artinya ini di tingkat lebih atas dari ratas menko memutuskan bahwa Bulog untuk tahun 2021 itu mesti mempunyai cadangan/iron stock (beras)," bebernya.

Salah satunya, cadangan Bulog tahun ini diperoleh dari pengadaan 500 ribu ton beras impor. "Jadi waktu saya datang, saya hanya menghitung jumlahnya," tuturnya.

Berdasarkan penghitungannya, stok beras cadangan Bulog saat ini hanya tersedia sebanyak 800.000 ton. Di mana di dalamnya ada 270.000-300.000 ton dari stok tersebut merupakan beras hasil impor tahun 2018 silam. Namun, sebanyak 300 ribu beras sisa impor tersebut berpotensi mengalami penurunan mutu.

"Artinya, Bulog hari ini bisa cadangannya di bawah 500 ribu ton," ucapnya.

Namun demikian, stok beras di gudang Bulog malah melimpah. Berikut keterangannya:

2 dari 5 halaman

Indramayu Simpan 37.000 Ton Beras

Kepala Pimpinan Kantor Cabang Bulog Indramayu, Jawa Barat Dadan Irawan mengatakan saat ini pihaknya menyimpan 37.000 ton beras dan diperkirakan bisa untuk cadangan setahun mendatang.

"Saat ini cadangan beras kita sebanyak 37 ribu ton yang tersebar di delapan gudang," kata Dadan di Indramayu.

Menurutnya adanya cadangan beras yang mencapai 37.000 ton itu bisa untuk kebutuhan pangan setahun ke depan dan bahkan bisa lebih.

Dadan mengatakan saat ini Bulog Indramayu, tidak ada pengeluaran beras dari gudang, sebab pemerintah tidak lagi memberikan penugasan seperti dahulu.

"Kalau dahulu kita ada pengeluaran setiap bula melalui beras sejahtera, tapi sekarang kan tidak ada lagi. Jadi cadangan beras tidak bisa saya hitung untuk berapa bulan, pastinya lebih dari setahun," ujarnya.

Dia menambahkan Bulog Indramayu terus diberi penugasan untuk menyerap gabah milik petani, ketika harga di pasar turun.

Pada tahun ini kata Dadan, target penyerapan beras petani diangka 35 ribu ton, dan Bulog Kantor Cabang Indramayu siap menyerap semaksimal mungkin. Hal ini dilakukan agar bisa mencegah harga beras petani jatuh di bawah HPP yang ditetapkan dalam Permendag no.24 tahun 2020.

"Pada tahun 2020, kami sudah melakukan penyerapan beras petani dengan optimal mencapai 10 ribu ton," katanya.

3 dari 5 halaman

Beras Turun Mutu karena Tak Digunakan

Sebanyak 5.000 ton beras impor asal Vietnam tahun 2018 yang berada di Gudang Bulog Kabupaten Indramayu, Jawa Barat mengalami turun mutu dan tidak dapat lagi dikeluarkan.

"Kondisi beras impor asal Vietnam ini dipastikan turun mutu," kata Kepala Pimpinan Kantor Cabang Bulog Indramayu Dadan Irawan dikutip dari Antara Indramayu, Selasa (23/2).

Menurutnya, beras asal Vietnam tersebut diimpor oleh pemerintah pada tahun 2018 lalu, dan sampai saat ini belum juga keluar dari Gudang Bulog.

Dia mengatakan, dengan lamanya masa simpan, maka dipastikan beras impor tersebut turun mutu, bahkan ketika disimpan lebih lama lagi, maka akan rusak.

Karena lanjut Dadan, maksimal penyimpanan beras di gudang itu idealnya sekitar enam bulan sampai satu tahun, sedangkan beras impor sudah tiga tahun lebih.

"Kami belum bisa mengatakan beras ini rusak, karena belum melakukan penelitian lebih lanjut. Tapi yang pasti ketika akan dikeluarkan, maka membutuhkan biaya lagi," tuturnya.

4 dari 5 halaman

Jatim Tak Butuh Impor

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan wilayahnya tidak perlu beras impor. Ia mengklaim, bahwa stok beras Jatim sampai Mei 2021 dipastikan aman lantaran masih surplus.

"Jawa Timur tidak perlu suplai beras impor. Kita bisa mencukupi kebutuhan pangan dan mampu menjaga kestabilan harga gabah di tingkat petani," katanya, Senin (22/3).

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, stok beras di Jawa Timur akan surplus hingga akhir Mei 2021.

Surplus beras di Jatim ini terjadi karena sampai semester satu luas panen Jawa Timur dihitung asumsi sampai dengan April sebesar 974.189 hektare dengan asumsi produksi beras 3.053.994 ton.

"Jadi berdasarkan prediksi dan hitungan kami, di Jatim akan ada surplus 902.401 ton. Dengan jumlah itu, maka Jatim tidak perlu ada suplai beras impor. Stok beras kita sangat melimpah. Bahkan saat ini tim satgas pangan sedang keliling untuk menyerap padi dan beras produksi panen saat ini," ujarnya.

Selain itu, berdasarkan prognosa ketersediaan dan kebutuhan pangan pokok Januari-April 2021, ketersediaan beras diasumsikan tercukupi. Bahkan tren harga beras juga akan terjaga stabil.

Lebih lanjut ditegaskan Khofifah, angka ketersedian beras yang disebutkan di atas masih belum dihitung tambahan luas panen Mei dan Juni. Yang luas lahannya 295.118 ha dengan produksi 1.008.779 ton. Sehingga produksi beras Jawa Timur sampai dengan semester 1 adalah 1.911.180 ton.

Dengan data tersebut, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa warga masyarakat tak perlu khawatir dan cemas, karena stok pangan Jawa Timur aman dan dalam kondisi sangat cukup dan surplus.

Ia menegaskan bahwa prakiraan produksi tidak bergeser seperti yang terjadi pada tahun 2020. Bahkan produksi beras di Jatim selalu meningkat dari tahun ke tahun.

"Jadi, saya tegaskan bahwa ketersedian 2021 Kondisi stok sangat aman, Tahun 2020 kita juga surplus 1,9 juta ton, yang secara tidak langsung menjadi stok atau cadangan," ungkapnya.

Dia juga mengimbau pada seluruh warga masyarakat agar tidak melakukan spekulasi sehingga berdampak pada gejolak harga di pasaran. Dengan kondisi beras Jatim yang surplus, dipastikan bahwa kestabilan harga di pasar juga akan stabil.

5 dari 5 halaman

Beras Menumpuk di Cirebon

Kepala Pimpinan Kantor Cabang Bulog Cirebon, Jawa Barat Ramadin Ruding mengatakan saat ini masih terdapat 5.000 ton beras impor tahun 2018 berada di gudang dan belum dapat dikeluarkan.

"Ada 5.000 ton beras impor tahun 2018 yang masih berada di gudang," kata Ramadin dikutip dari Antara Cirebon, Jumat (19/3).

Menurutnya, ketika beras itu akan dikeluarkan, butuh operasional lainnya, agar beras impor yang sudah berada di gudang sejak tahun 2018 itu dapat keluar.

"Kalau mau dikeluarkan kami harus menambah operasional lagi, agar beras ini dapat terjual," tuturnya.

Dia mengatakan, saat ini total stok beras di gudang Kantor Cabang Bulog Cirebon yaitu 70 ribu ton, ini menunjukkan cadangan beras bisa sampai 13 bulan ke depan.

Sedangkan untuk pengeluaran beras Bulog, lanjut Ramadin, saat ini hanya ketika ada operasi pasar yang saat ini dinamakan Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH).

"Penyaluran kami hanya KPSH dan ketika panen raya KPSH juga diperkecil," katanya. [idr]

Baca juga:
Bulog: 5.000 Ton Beras Impor Asal Vietnam di Indramayu Turun Mutu
Mendag Lutfi Siap Mundur Jika Kebijakan Impor Beras 1 Juta Ton Keliru
Faisal Basri Sebut Pemburu Rente Untung Rp2 Triliun dari Impor 1 Juta Ton Beras
Faisal Basri: Surplus Beras Terjadi karena Konsumsi Masyarakat Turun
Tiga Alasan Faisal Basri Tak Setuju Rencana Impor Satu Juta Ton Beras di 2021
Khofifah: Surplus 900 Ribu Ton, Jatim Tak Butuh Impor Beras

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini