Sriwijaya Air Terlilit Masa Sulit, Cerai dari Garuda Hingga Dibayangi Kebangkrutan

Rabu, 13 Januari 2021 06:00 Reporter : Idris Rusadi Putra
Sriwijaya Air Terlilit Masa Sulit, Cerai dari Garuda Hingga Dibayangi Kebangkrutan

Dibayangi Kebangkrutan

Seolah menjadi formula dan rumus yang menjadi momok bahwa insiden bahkan kecelakaan pesawat merupakan awal dari kebangkrutan sebuah maskapai.

Tengok saja, Malaysia Airline yang pada 2015 dirundung duka karena musibah yang menimpa dua pesawat yakni MH370 yang bahkan belum juga diketahui nasibnya. Empat bulan berselang MH17 ditembak jatuh dengan rudal karena sempat dicurigai akibat terbang di wilayah udara Ukraina.

Kedua bencana tersebut terbukti menjadi pukulan keras bagi bisnis MH yang sedang berjuang keras untuk bangkit dan bahkan telah melaporkan kerugian selama beberapa tahun akibat persaingan di bisnis penerbangan yang sangat ketat.

Chief Executive Malaysia Airline bahkan mengumumkan perusahaannya secara teknis telah bangkrut akibat dua musibah itu dan harus segera mem-PHK 6.000 karyawannya. Namun beruntung, MH dapat memperbaiki bisnisnya sehingga perlahan bangkit.

Nasib tak seberuntung MH dialami oleh maskapai asal Mesir, Flash Airline, yang pada 2004 mengalami musibah pesawatnya berjenis Boeing 737-300 jatuh di Laut Merah hingga menewaskan 148 penumpang. Tak lama berselang sekitar dua bulan kemudian, Flash Airlines pun dinyatakan bangkrut.

Di Tanah Air, Adam Air mengalami kebangkrutan setelah mengalami kecelakaan berkali-kali dan pada akhirnya dicabut izin terbangnya oleh Departemen Perhubungan pada Maret 2008.

Menurut pengamat penerbangan sipil Gatot Raharjo dikutip dari Antara, nasib Sriwijaya Air pasca musibah ini belum bisa diprediksikan dan masih terlampau dini untuk memproyeksikannya.

Sebagai perusahaan privat, laporan keuangan Sriwijaya hanya dapat diakses oleh manajemen internal, auditor, dan Kementerian Perhubungan sehingga publik tidak bisa mengetahui laporan keuangan maskapai tersebut. Gatot mengatakan saat masih bergabung dengan Garuda, Sriwijaya memiliki indikator kesehatan yang baik.

Namun sejatinya secara umum iklim bisnis penerbangan di Indonesia kata Gatot, sangat berat sehingga Sriwijaya akan menghadapi persoalan yang amat beragam untuk bangkit. Terlebih dia harus memulihkan citra yang hancur berkeping-keping akibat musibah SJ 182.

Gatot menyarankan pemerintah melakukan intervensi jika maskapai tersebut pada akhirnya bangkrut sebab kolapsnya Sriwijaya akan berdampak luas. Dunia penerbangan Indonesia akan menjelma menjadi pasar oligopoli yang dikuasai oleh Garuda dan Lion Group.

[idr]

Baca Selanjutnya: Segudang masalah...

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini