Sri Mulyani: Pandemi Covid-19 Dapat Dimanfaatkan untuk Reformasi di Berbagai Bidang

Selasa, 12 Mei 2020 17:04 Reporter : Dwi Aditya Putra
Sri Mulyani: Pandemi Covid-19 Dapat Dimanfaatkan untuk Reformasi di Berbagai Bidang Virus corona COVID-19. ©2020 AFP Photo/STR/China Out

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa pandemi virus corona atau Covid-19 dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan reformasi di berbagai bidang. Menurutnya, kehadiran wabah ini juga tak membuat pemerintah patah semangat dan kehilangan orientasi untuk melakukan pemulihan ekonomi.

"Justru dengan adanya krisis pandemi Covid-19, harus dapat dimanfaatkan untuk melakukan reformasi di berbagai bidang," katanya dalam sidang Paripurna DPR RI, di Jakarta, Selasa (12/5).

Sri Mulyani mengatakan, upaya pemulihan dan reformasi bidang kesehatan, sosial dan ekonomi harus dimulai bersama dengan penanganan pandemi Covid-19. Hal ini akan berlangsung hingga 2021.

Dengan demikian, kebijakan ekonomi makro dan arah kebijakan fiskal di tahun 2021 akan berfokus pada upaya-upaya pemulihan ekonomi sekaligus upaya reformasi untuk mengatasi masalah fundamental ekonomi jangka menengah-panjang menuju visi Indonesia Maju 2045.

Bendahara Negara ini menjelaskan, sejak penyebaran Covid-19 pemerintah telah melakukan berbagai langkah untuk menangani dampak negatif pada masyarakat dan memulihkan ekonomi. Diantaranya melalui perluasan bantuan sosial untuk melindungi masyarakat miskin dan terdampak, termasuk yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Kemudian, dunia usaha terutama usaha kecil dan menengah juga mendapatkan dukungan pemerintah berupa penundaan pinjaman dan bantuan subsidi bunga pinjaman. Langkah ini diharapkan mampu menambah ketahanan dunia usaha menghadapi tekanan Covid-19 yang sangat berat.

1 dari 1 halaman

Langkah Pemulihan Ekonomi

ekonomi rev1

Pemerintah juga sedang dan akan melakukan langkah pemulihan ekonomi seperti yang diatur dalam Perppu No 1/2020 yaitu melalui belanja negara, penempatan dana pemerintah, penjaminan, dan penanaman modal negara.

Sementara proses pemulihan ekonomi terus diupayakan dan akan berlangsung, Indonesia perlu melakukan reformasi untuk keluar dari Middle Income Trap melalui peningkatan produktivitas dan daya saing.

Untuk meningkatkan produktivitas, Indonesia masih perlu terus memperbaiki gap infrastruktur dan meningkatkan kemampuan adopsi teknologi. Di sisi daya saing, banyak hal yang masih perlu dibenahi, antara lain iklim usaha yang kurang kondusif untuk investasi, birokrasi dan regulasi yang belum efisien, serta high cost economy yang menghambat daya saing ekspor

"Terkait hal ini, kualitas SDM atau tenaga kerja selalu menjadi bagian sentral dalam peningkatan produktivitas maupun daya saing Indonesia," jelas dia.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, Presiden Joko Widodo telah memberikan lima arahan strategis yang sangat relevan, yaitu pembangunan kualitas SDM, melanjutkan pembangunan infrastruktur, reformasi birokrasi dan penyederhanaan regulasi, serta transformasi ekonomi.

"Akselerasi pembangunan infrastruktur telah berjalan perlu dijaga keberlanjutannya. Peningkatan kualitas SDM adalah keharusan memasuki era baru, era knowledge economy atau era industri 4.0. Perekonomian Indonesia harus mengalami transformasi menuju knowledge economy. SDM-nya harus berkualitas, infrastrukturnya harus mendukung, iklim usaha harus dipermudah. Oleh karena itu, reformasi birokrasi dan penyederhanaan regulasi menjadi kunci," tandas dia. [idr]

Baca juga:
Sri Mulyani: Kecemasan Investor Level Tertinggi, Mereka Pindahkan Aset ke Emas & USD
Sri Mulyani Sebut Covid-19 Jadi Ancaman Nyata Bagi Masyarakat dan Negara
Tak Ada yang Siap, Negara Saling Contek Kebijakan Hadapi Pandemi Virus Corona
Curhat Bos AP I: Sektor Penerbangan Terpuruk Sepanjang Sejarah Akibat Corona
China Jadi Salah Satu Negara dengan Pemulihan Ekonomi Paling Cepat

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini