Sri Mulyani Dalami Penyebab Defisit Neraca Perdagangan April 2019

Rabu, 15 Mei 2019 15:13 Reporter : Dwi Aditya Putra
Sri Mulyani Dalami Penyebab Defisit Neraca Perdagangan April 2019 Sri Mulyani. ©2017 merdeka.com/anggun situmorang

Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 defisit sebesar USD 2,50 miliar. Defisit tersebut disebabkan oleh defisit sektor migas dan non migas masing masing sebesar USD 1,49 miliar dan USD 1,01 miliar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, apabila melihat dari komposisinya tentu ini menjadi kondisi yang perlu diperhatikan. Sebab, menurut dia impor maupun ekspor Indonesia sama-sama mengalami tren penurunan.

"Walaupun impor kontraksi, tetapi ekspor juga kontraksi lebih dalam. Jadi ini faktor dari ekspor yang sebetulnya mengalami pelemahan yang juga kita mesti waspada," katanya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (15/5).

Dia mengatakan dari sisi impor sendiri, untuk bahan baku dan barang modal juga perlu diantisipasi terhadap pelaku industri yang menggunakan komponen tersebut. Sebab, ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

"Sebetulnya signal ini menggambarkan bahwa ekonomi dunia memang mengalami situasi yang tidak mudah. Dan Indonesia kalau ingin tetap menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen berarti dari sisi komposisi pertumbuhannya itu terutama yang untuk industri manufaktur itu akan mengalami tekanan yang cukup dalam," jelasnya.

Di samping itu, bendahara negara ini juga tengah mendalami penyebab defisitnya neraca perdagangan pada April 2019. Terutama melihat apakah ada volume impor yang slowdown terutama pada Januari hingga Maret yang kemudian baru direalisasikan pada April.

"Mungkin mereka melakukan kalkulasi nanti sesudah Lebaran akan ada libur yang panjang lagi jadi semuanya ditumpukkan di bulan April. Jadi Januari-Maret slowdown sekarang di stok tinggikan karena nanti antisipasi. Tetapi saya akan lihat setiap komposisinya," pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit pada April tersebut merupakan terbesar sejak Juli 2013. Menurut catatan BPS, defisit yang hampir sama pernah terjadi pada Juli 2013 sebesar USD 2,33 miliar.

"Menurut data kami, yang sekarang ada, itu terbesar di Juli 2013 sekitar USD 2,33 miliar. Lalu April ini, sebesar USD 2,50 miliar," ujar Suhariyanto di Kantornya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini