Soal Stunting, YLKI Nilai Para Cawapres Belum Punya Solusi Sistematis

Senin, 18 Maret 2019 11:46 Reporter : Dwi Aditya Putra
Soal Stunting, YLKI Nilai Para Cawapres Belum Punya Solusi Sistematis Debat Cawapres 2019. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti visi misi yang disampaikan para pasangan cawapres 01 maupun 02 pada saat debat ketiga semalam. Menurut YLKI, visi misi yang disajikan terlihat terlalu teknis dan sektoral. Salah satunya terkait masalah stunting.

"Lebih kepada visi misi seorang menteri, bukan seorang cawapres. Padahal persoalan yang ada harus disikapi dengan kebijakan yang komprehensif dan holistik," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (18/3).

Tulus mengatakan terkait dengan persoalan BPJS kesehatan dan stunting, sangat ironis. Sebab, kedua pasangan calon belum menonjolkan upaya preventif promotif secara serius, dan sistematis.

Terbukti, para paslon tidak sedikitpun berbicara upaya pengendalian konsumsi tembakau. Padahal, baik stunting dan defisit BPJS kesehatan, sangat erat kaitannya dengan upaya preventif promotif, salah satunya adalah pengendalian konsumsi tembakau.

"Benar stunting disebabkan karena kurangnya asupan gizi secara kronis pada rumah tangga miskin. Tetapi asupan gizi yang kurang itu karena alokasi pendapatan rumah tangga miskin lebih banyak untuk membeli rokok, bukan untuk membeli lauk pauk," kata Tulus.

Kemudian, terkait BPJS kesehatan, defisit keuangannya juga banyak dipicu oleh penyakit tidak menular, seperti jantung koroner, stroke, hipertensi, gagal ginjal, dan lain-lain. Penyakit ini pun muncul karena faktor gaya hidup serta konsumsi rokok berkontribusi paling signifikan atas munculnya penyakit penyakit tersebut.

"YLKI mempertanyakan dengan keras para pasangan calon tidak menjadikan upaya preventif promotif berupa wabah konsumsi rokok sebagai agenda kebijakannya. Ada kepentingan apa sehingga para cawapres tidak menyinggung upaya pengendalian konsumsi rokok? Aneh bin ajaib," terangnya.

Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, prevalensi penyakit tidak menular justru melonjak drastis, dibandingkan prevalensi pada Riskesdas 2013. Faktanya prevalensi kanker dari semula sebesar 1,4 persen (2013) menjadi 1,8 persen (2018), prevalensi stroke dari 7 persen menjadi 10,9 persen, penyakit ginjal kronik dari 2 persen menjadi 3,8 persen dan penyakit diabetes melitus dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen.

"Dengan melihat visi misi kedua paslon tersebut, YLKI sangat meragukan masalah kesehatan secara holistis seperti stunting akan bisa diwujudkan dan diatasi. Dan BPJS Kesehatan pun akan mengalami defisit finansial yang berkepanjangan," pungkasnya. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini