SMF Fasilitasi Pengembang Asal Filipina Kaji Pembiayaan Perumahan RI

Kamis, 27 Juni 2019 14:14 Reporter : Dwi Aditya Putra
SMF Fasilitasi Pengembang Asal Filipina Kaji Pembiayaan Perumahan RI Direktur Sekuritisasi dan Pembiayaan SMF, Heliantopo. ©2019 Merdeka.com/Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memfasilitasi organisasi pengembang perumahan asal Filipina, OSHDP (Organization of Socialized and Economic Housing Developers, Inc) untuk melakukan studi banding tentang corak industri pembiayaan perumahan untuk masyarakat di Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari tersebut dilakukan di Tangerang pada 26-27 Juni 2019. Kegiatan ini diikuti oleh 56 orang peserta perwakilan dari OSHDP dengan narasumber Direktur Sekuritisasi dan Pembiayaan SMF, Heliantopo, dan Vice Chairman of REI (Real Estat Indonesia), Ignesjz Kemalawarta.

Direktur Sekuritisasi dan Pembiayaan SMF, Heliantopo berharap melalui studi banding ini dapat menjadi langkah awal dan dasar bagi kedua belah pihak dalam melakukan kerjasama, penelitian, berbagi informasi, berbagi pengetahuan, yang berkaitan erat dengan pembiayaan perumahan.

Selama ini Indonesia dan Filipina, melalui SMF dan NHMFC (National Home Mortgage Finance Corporation) telah lama membangun hubungan baik, terlebih kedua lembaga tersebut merupakan anggota ASMMA (Asian Secondary Mortgage Market Association). Keduanya juga memiliki peran yang cukup strategis, khususnya sebagai katalis dalam mendukung pengembangan pasar pembiayaan sekunder perumahan untuk mendukung kepemilikan rumah yang layak dan terjangkau bagi masyarakat.

"Pada posisinya SMF sebagai satu-satunya lembaga BUMN yang bergerak dalam hal secondary mortgage selalu siap untuk merajut sinergi dengan berbagai pihak untuk mengakselerasikan pengembangan pasar pembiayaan perumahan, khususnya di Indonesia," ucap Heliantopo melalui keterangan resminya, Kamis (27/6).

Sementara itu, National President of OSHDP, Jefferson Bongat mengatakan bahwa studi banding ini merupakan bagian dari agenda rutin OSHDP setiap tahunnya. Secara khusus pihaknya ingin mengetahui pasar real estate dan perumahan di Jakarta, mulai dari mekanisme keuangan, kebijakan Pemerintah, serta regulasi dan inovasi dalam pengembangan perumahan di Indonesia.

"Kami mempunyai fokus pada negara-negara dengan bisnis pengembangan hunian untuk publik. Tahun ini kami mengindentifikasi bahwa indonesia merupakan negara dengan pengembangan hunian publik yang menarik untuk dikaji," katanya.

Kepada OSHDP, Heliantopo menyampaikan bahwa selama ini, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam membeli atau memiliki rumah. Masyarakat, cenderung memilih metode kredit dibandingkan tunai bertahap dan tunai.

Data dari Bank Indonesia menyebutkan bahwa selama kuartal 1 tahun 2019, presentase pemilikan rumah melalui KPR mencapai angka 74,2 persen, lebih tinggi dibandingkan pemilikan secara tunai bertahap (17,3 persen.), dan tunai (8,5 persen).

Sementara itu terkait backlog pemilikan rumah, data dari Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2017 menunjukkan bahwa backlog perumahan di Indonesia didominasi oleh backlog kepemilikan ketimbang kepenghunian, hal tersebut ditunjukkan oleh angka backlog kepemilikan yang mencapai 13,7 juta keluarga dibanding backlog kepenghunian dengan angka 6,4 juta keluarga.

Terkait pembiayaan perumahan di Indonesia, Heliantopo memaparkan bahwa penetrasi KPR di Indonesia cenderung masih rendah, sedangkan rasio KPR terhadap PDB di Indonesia pada tahun 2018 hanya sebesar 3 persen. Angka tersebut masih jauh lebih rendah dibanding negara lain, seperti Filipina yang berada di angka 3,9 persen, Thailand 22,7 persen, Malaysia 39,1 persen, dan Amerika 75,2 persen.

Lebih lanjut Heliantopo juga mengatakan bahwa tren KPR di Indonesia terhadap GDP Indonesia cenderung rendah yaitu hanya berkisar 2,8 persen di tahun 2013 sampai dengan 2017 dan di tahun 2018 baru menyentuh angka 3 persen. Sedangkan rasio KPR terhadap total kredit perbankan di angka 8,41 persen di tahun 2018.

"Hal ini menunjukkan bahwa KPR dapat tumbuh lebih jauh, SMF yakin masih adanya ruang untuk tumbuh lebih besar bagi pasar pembiayaan perumahan, baik sekunder maupun primer," tandasnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini