Sinergi Pertamina-PLN bangun PLTGU terbesar di ASEAN

Selasa, 31 Januari 2017 14:34 Reporter : Syifa Hanifah
Sinergi Pertamina-PLN bangun PLTGU terbesar di ASEAN Dirut Pertamina Dwi Soetjipto. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - PT PLN (Persero) bersama Konsorsium PT Pertamina (Persero), Marubeni Corporation, dan Sojitz Corporation menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa 1 berkapasitas 1.760 MW

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Dwi Sutjipto mengatakan, Proyek PLTGU Jawa 1 merupakan bukti nyata sinergi dua BUMN besar.

"Proyek PLTGU jawa 1 ini telah menunjukkan bukti nyata sinergi dua BUMN besar yakni Pertamina sebagai BUMN migas dan PLN sebagai penyedia listrik nasional," jelas Dwi di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (31/1).

Dwi mengakui, selama ini banyak masyarakat berpikir dua BUMN besar tidak dapat bekerjasama dengan baik, namun dengan adanya proyek PLTGU Jawa 1 Sinergi di bidang energi ke depannya akan jauh lebih mudah untuk bangun. Dan hal ini dapat menjawab keraguan masyarakat

"Rasanya orang selama ini melihat yang besar susah bergabung hari ini kita buktikan bahwa kita bisa bersinergi dengan baik," ungkapnya.

PLGU Jawa 1 ini berkapasitas kapasitas 1.760 MW dan merupakan pembangkit pertama di Asia yang dilengkapi dengan Floating Storage Regasification Unit (FSRU). Fasilitas ini berfungsi sebagai terminal penerimaan gas, di mana gasnya akan disediakan PLN yang didatangkan dari Blok Tangguh.

Selain itu, PLTGU terbesar di Asia Tenggara ini melibatkan 18 mitra Internasional maupun domestik yaitu Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa.

"ini merupakan PLTGU yang terbesar dia Asia Tenggara dan juga pembangkit yang terintegrasi dengan FSRU pertama di Asia. Mungkin sesuai dengan Dirutnya yang besar jadi kalau punya proyek yang besar-besar," pungkasnya.

Sebagai informasi PLTGU Jawa 1 ini direncanakan akan mulai beroperasi pada akhir tahun 2020. Pembangkit ini akan mensuplai listrik ke Sistem Jawa-Bali sebesar 8.409 GWh setiap tahun. Sementara untuk lokasinya berada di Cilamaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Dengan Total investasi yang dibutuhkan mencapai US$ 1,8 miliar atau Rp 24 triliun. [idr]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini