Sektor Pariwisata Bisa Jadi Tonggak Pemerintah Lawan Resesi Global

Kamis, 7 November 2019 12:06 Reporter : Merdeka
Sektor Pariwisata Bisa Jadi Tonggak Pemerintah Lawan Resesi Global Raja Ampat. © Pinterest

Merdeka.com - Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi menuturkan, industri pariwisata Indonesia dapat dioptimalkan untuk melawan ancaman resesi global. Menurutnya, menggenjot sektor pariwisata dapat dijadikan salah satu andalan dalam menangkal perlambatan ekonomi global.

"Secara paralel kita harus menggenjot pariwisata. Karena saya yakin Indonesia begitu banyak potensi wisatanya. Dalam hal itu, persoalan kita di pariwisata ada 3A (atraksi,amenitas, dan aksesibilitas) dan 2P (promosi dan pelaku)," tuturnya di Jakarta, Kamis (7/11).

Dia menjelaskan, akses menuju tempat wisata harus dipermudah, sehingga wisatawan akan tertarik untuk berkunjung.

"A berikutnya adalah atraksi. Kita sama-sama mengetahui turis-turis tinggal di Indonesia itu hanya bermalam 1,7 hari. Berarti tidak dua malam ya. Karena atraksinya tidak menarik atau kurang. Seperti Turki, turis-turis bisa long of stay bisa satu minggu," ujarnya.

Sedangkan amenitas yakni terkait persoalan kekurangan kebersihan dan standar keramahan. "Service something like that," ujarnya.

Dia juga melanjutkan, promosi dan pembiayaan akan terus diupayakan Pemerintah dalam mengkerek industri pariwisata RI. "P berikutnya adalah pembiayaan. Kita hadir di sini untuk menarik bagaimana kita bisa mendapatkan pembiayaan. Seperti apa visibility kita dapatkan," tegasnya.

1 dari 2 halaman

Antisipasi Perlambatan Ekonomi Global

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Rosmaya Hadi menuturkan, ada dua hal yang harus menjadi fokus Pemerintah guna menghadapi situasi ekonomi saat ini.

"Pertama tentang kondisi ketidakpastian global. Ini akan panjang dan kita harus waspadai itu," tuturnya di Jakarta, Kamis (7/11).

Selain itu, pemerintah juga harus mengoptimalkan kemajuan teknologi saat ini dengan meningkatkan daya saing terhadap produk-produk ekspor dalam negeri.

"Kedua tentang adanya kemajuan teknologi. Kemajuan industri 4.0 yang harus disikapi oleh kita untuk pertahankan daya saing produk-produk kita. Jadi ada dua hal itu harus kita segera bergandengan tangan di negeri ini untuk menyikapi dua hal tersebut," kata dia.

Pihaknya menjelaskan, peningkatan daya saing produk RI menjadi krusial sebagai upaya mengurangi defisit transaksi berjalan yang dialami Indonesia.

2 dari 2 halaman

Infrastruktur 5 Bali Baru

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menegaskan akan terus mempercepat pembangunan infrastruktur konektivitas di 5 destinasi super prioritas, yakni Labuan Bajo, Danau Toba, Mandalika, Borobudur dan Likupang. Hal ini agar pariwisata bisa jadi penyumbang devisa terbesar Indonesia.

Dia menjelaskan, hingga saat ini sektor penyumbang devisa paling besar masih dikuasai oleh kelapa sawit.

"Oleh karenanya, potensi pariwisata Indonesia yang indah harus bisa diintesifikasi dengan baik. Saya yakin 5 tahun ke depan pariwisata Indonesia bisa menjadi unggulan," ujarnya dalam Forum Perhubungan, Jakarta, Kamis (7/11).

Meskipun fokus pembangunan nasional 5 tahun ke depan adalah sumber daya manusia (SDM), sektor infrastruktur masih diberikan porsi yang besar karena infrastruktur merupakan tulang punggung pembangunan nasional.

"Kami diberikan tugas dan porsi untuk menyelesaikan konektivitas sebaik-baiknya," imbuhnya.

Reporter: Bawono Yadika

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Hadapi Resesi, Pemerintah Diminta Perhatikan 2 Hal Ini
Jokowi: Hampir Semua Negara Pertumbuhan Ekonominya Turun, Kita Masih Diberi 5 Persen
Presiden Jokowi: Kita Harus Hati-Hati, Ada Negara yang Sudah dan Menuju Resesi
Pemerintah Akui Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Tertekan Dampak Resesi Dunia
Pemerintah Yakinkan Komposisi APBN Mampu Jaga Pertumbuhan Ekonomi di 5 Persen

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini