Saran untuk BPOM dalam Mengawasi dan Evaluasi Produk Tembakau Alternatif

Rabu, 6 November 2019 16:22 Reporter : Idris Rusadi Putra
Saran untuk BPOM dalam Mengawasi dan Evaluasi Produk Tembakau Alternatif rokok elektrik. ©REUTERS/Mike Segar

Merdeka.com - Keputusan U.S Food and Drug Administration (U.S. FDA) mengizinkan salah satu perusahaan tembakau asal Swedia untuk mengiklankan produknya dengan label minim risiko kesehatan daripada rokok yang dibakar, layak diapresiasi. Izin tersebut diberikan setelah adanya evaluasi yang menyeluruh terhadap salah satu jenis dari produk tembakau alternatif.

Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP), Amaliya mengharapkan agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dapat merujuk langkah U.S. FDA tersebut.

"FDA sudah melakukan keputusan yang tepat demi melindungi kesehatan masyarakat di Amerika Serikat, terutama perokok dewasa yang ingin berhenti merokok secara bertahap. Kami mengharapkan BPOM juga melakukan hal serupa agar angka perokok di Indonesia yang masih tinggi segera berkurang," kata Amaliya.

Sebagai langkah awal, menurut Amaliya, BPOM bisa mulai melakukan kajian ilmiah terhadap produk tembakau alternatif yang sudah beredar di Indonesia sehingga terdapat standarisasi bagi produk tersebut, seperti yang telah dilakukan oleh U.S. FDA. Kajian ilmiah yang masih minim, seringkali membuat opini terhadap produk tembakau alternatif menjadi tidak akurat dan menyesatkan.

"Kondisi sekarang ini menciptakan kebingungan di masyarakat, terutama para perokok dewasa. Mereka kehilangan momentum untuk memanfaatkan produk tembakau alternatif agar bisa berhenti merokok," ujarnya.

U.S. FDA sudah mengeluarkan pernyataan resminya bagi produk tembakau alternatif jenis snus miliki Swedish Match bermerek General snus. Menurut U.S. FDA, General snus memiliki risiko yang lebih rendah untuk terkena kanker mulut, penyakit jantung, kanker paru-paru, stroke, emfisema, dan bronkritis kronis daripada rokok. Ini menandai pertama kalinya U.S. FDA menyetujui permintaan iklan dengan label minim risiko untuk produk tembakau alternatif.

Meski U.S. FDA menyatakan snus dapat dijadikan pengganti rokok karena memiliki risiko lebih rendah untuk terkena beberapa penyakit berbahaya, namun bukan berari produk tersebut aman. Snus adalah salah satu jenis tembakau tanpa asap. Tembakau ini biasanya dijual dalam bentuk kantong dan cara penggunaannya dilakukan dengan meletakkan kantong tembakau tersebut di dalam mulut.

"Sekarang kami tahu bahwa cara ini berfungsi. Kami melihat ini sebagai sebuah kemungkinan untuk produk (tembakau) lain," kata Gerry Roerty, Wakil Presiden Penasihat Hukum dan Umum Swedish Match untuk divisi Amerika Serikat.

Selain snus, Amaliya menjelaskan masih ada produk tembakau alternatif lainnya yang memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok. Produk tersebut juga mengurangi timbulnya penyakit-penyakit berbahaya yang diakibatkan oleh rokok. Salah satu di antaranya adalah produk tembakau yang dipanaskan (heated tobacco products). Produk ini memanaskan tembakau asli dengan menggunakan sebuah perangkat elektronik pada suhu maksimal 350 derajat celcius, sehingga menghasilkan uap yang menghantarkan nikotin. Dengan begitu, produk ini tidak menghasilkan TAR, zat kimia berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran pada rokok.

Hal ini juga diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan Institut Federal Jerman untuk Penilaian Risiko (German Federal Institute for Risk Assessment atau BfR) pada 2018 lalu. Hasil riset itu menyatakan produk tembakau yang dipanaskan memiliki tingkat toksisitas (tingkat merusak suatu sel) yang lebih rendah hingga 80 sampai 99 persen daripada rokok.

"Masyarakat sebenarnya memiliki banyak alternatif untuk berhenti merokok, namun terkendala lantaran kurangnya informasi yang akurat. Dengan fakta-fakta yang ada, pemerintah seharusnya terbuka terhadap potensi yang dimiliki oleh produk tembakau alternatif, seperti FDA yang mengambil keputusan tersebut berdasarkan kajian ilmiah," ujar Amaliya.

1 dari 1 halaman

Tolak Kenaikan Cukai Rokok

Petani tembakau secara tegas menolak kenaikan cukai rokok yang ditetapkan pemerintah sebesar 22 persen.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Agus Parmuji mengatakan, para petani merasa keberatan atas kenaikan cukai rokok yang terlalu tinggi yang diumumkan melalui diterbitkannya PMK 152/2019 tentang tarif cukai tembakau.

"Kenaikan cukai dan HJE yang terlalu tinggi ini berdampak langsung pada keberlangsungan dan kesejahteraan petani tembakau kami," tegas Agus Parmuji.

Sementara itu, Sekretaris APTI Agus Setiawan meminta Presiden Jokowi agar melindungi petani tembakau sehingga hajat hidup terjaga, dan tidak ditabrak oleh berbagai regulasi yang mematikan sektor tembakau.

Terbitnya PMK 152/2019 yang ditandatangani Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 19 Oktober 2019, seakan-akan petani tembakau itu anak kecil yang dilimpekne (alih perhatian) dengan Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober 2019 lalu.

"Kami kecewa dengan Ibu Sri Mulyani. Pasalnya, PMK 152/2019 berakibat buruk terhadap kelangsungan petani tembakauli," cetusnya.

Agus Setiawan menegaskan, tembakau saat ini hanya bisa ditampung oleh pabrikan rokok. Pemerintah tidak memiliki teknologi apapun yang mampu membeli tembakau petani.

"Kami panen tembakau hanya pabrikan rokok yang bisa menampung kami. Belum ada teknologi manapun yang sanggup membeli tembakau," tegasnya.

[idr]
Topik berita Terkait:
  1. Industri Tembakau
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini