Rupiah Dibuka Loyo di Awal Pekan Ini

Senin, 2 Desember 2019 10:18 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Rupiah Dibuka Loyo di Awal Pekan Ini dolar AS. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Senin (2/12). Mengutip data Bloomberg, Rupiah dibuka di level Rp14.120 per USD, atau melemah dibanding penutupan hari sebelumnya pada level 14.108.

Usai pembukaan, Rupiah bergerak stabil. Hingga siang ini Rupiah tetap berada pada angka Rp14.120.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), Rupiah dipatok di angka Rp14.122 per USD. Melemah jika dibandingkan dengan patokan pada tanggal (29/11) yang ada di angka Rp14.102 per USD.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi atau pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 0,41 persen pada November 2019 dibanding bulan sebelumnya.

"Pada November 2019, Rupiah secara rata-rata mengalami apresiasi 0,42 persen meskipun secara point to point mengalami depresiasi 0,41 persen dibandingkan dengan level akhir Oktober 2019," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, di kantornya, Jakarta, Kamis (20/11).

Namun kondisi Rupiah tetap stabil sejalan dengan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia yang membaik. Sejak awal tahun sampai dengan 20 November 2019 nilai tukar Rupiah tercatat menguat 2,03 persen (ytd).

1 dari 1 halaman

Likuiditas Perbankan Melambat

Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh melambat pada tumbuh melambat pada Oktober 2019. Tercatat, posisi M2 pada Oktober 2019 sebesar Rp6.025,6 triliun atau tumbuh 6,3 persen (yoy).

"Melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 7,1 persen (yoy)," dikutip dari laman resmi BI, Jumat (29/11).

Dalam keterangan tersebut dijelaskan bahwa perlambatan M2 berasal dari seluruh komponennya. Komponen uang kuasi melambat, dari 7,0 persen (yoy) pada September 2019 menjadi 6,1 persen (yoy), dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan simpanan berjangka, tabungan dan giro valuta asing (valas).

Sementara itu, uang beredar dalam arti sempit (M1) juga menunjukkan perlambatan, dari 6,9 persen (yoy) pada September 2019 menjadi 6,6 persen (yoy) pada Oktober 2019, terutama bersumber dari perlambatan giro rupiah.

Demikian juga surat berharga selain saham, melambat dari 39,1 persen (yoy) pada September 2019 menjadi 33,4 persen (yoy) pada bulan laporan. Sementara itu, uang kartal tumbuh meningkat, dari 4,0 persen (yoy) pada September 2019 menjadi 5,1 persen (yoy) pada Oktober 2019.

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan pertumbuhan M2 pada Oktober 2019 disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih serta aktiva dalam negeri bersih. [idr]

Baca juga:
Bank Mandiri Cabang Sorong Jadi Kantor Pengelola Kas Titipan Terbaik di 2019
BI Catat Pertumbuhan Likuiditas Oktober 2019 Melambat
Nilai Tukar Rupiah Stagnan Jelang Akhir Pekan
Nilai Tukar Rupiah Stagnan di Level Rp14.000-an per USD
Dipengaruhi Keputusan RDG Bank Indonesia, Rupiah Melemah ke Rp14.101 per USD
BI Catat Rupiah Alami Pelemahan 0,41 Persen pada November 2019

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini