Rupiah dekati Rp 13.000 per USD, mereka justru meraup untung

Rabu, 4 Maret 2015 15:44 Reporter : Putri Artika R
Rupiah dekati Rp 13.000 per USD, mereka justru meraup untung uang bank. merdeka.com

Merdeka.com - Hingga hari ini, Rabu (4/3), nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tak kunjung membaik. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, Rupiah ada di kisaran Rp 12.963 per dolar AS.

Pedagang elektronik dan kalangan importir mengeluhkan kondisi Rupiah yang tak kunjung membaik. Pemerintah juga menanggapi santai kondisi ini. Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil justru menyebut banyak pihak diuntungkan dari melemahnya nilai tukar Rupiah.

"Eksportir, petani produk-produk ekspor, petani kakao, petani sawit, dan lain-lain. Itu sangat diuntungkan. Tapi kalau mereka impor barang baku untuk pasar dalam negeri, itu jadi masalah karena harganya terpaksa mereka sesuaikan," ujar Sofyan di Istana Negara, Rabu (4/3).

Mantan menteri BUMN era SBY ini kembali menegaskan, melemahnya Rupiah tidak serta merta menggambarkan buruknya kondisi perekonomian nasional. Sebab, kata dia, yang terjadi justru sebaliknya. Ekonomi nasional diklaim tetap positif.

"Kondisi ekonomi kita, inflasi turun, arus modal asing positif, indeks harga saham naik, apapun indikator itu adalah cukup baik. Kemudian pengelolaan ekonomi kita jauh lebih baik, fiskal manajemen kita jauh lebih sehat, tidak lagi disandera kenaikan harga minyak," katanya.

Kendati Rupiah mendekati angka Rp 13.000 per USD, pemerintah tidak bisa melakukan intervensi. Pihaknya mempercayakan stabilitas nilai tukar Rupiah pada Bank Indonesia.

"Kalau kita intervensi tidak ada manfaatnya. Ya maka BI kan tidak intervensi, kalau mereka lakukan intervensi itu adalah urusan mereka secara teknis."

Disinggung soal kemungkinan Rupiah kembali normal, Sofyan tidak menjawab. "Kenapa harus pakai target? Tidak perlu, yang penting ekonomi kita baik," ucapnya. [noe]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini