Rupiah bergerak menguat tinggalkan level Rp 14.900-an per USD

Kamis, 27 September 2018 10:16 Reporter : Idris Rusadi Putra
Rupiah bergerak menguat tinggalkan level Rp 14.900-an per USD rupiah. shutterstock

Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) begerak menguat di perdagangan hari ini, Kamis (27/9). Bahkan, nilai tukar kembali meninggalkan level Rp 14.900-an per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah pagi ini dibuka di level Rp 14.920 atau sempat melemah dibanding penutupan perdagangan kemarin di RP 14.910 per USD. Namun, usai pembukaan Rupiah langsung bergerak menguat. saat ini, Rupiah berada di level Rp 14.899 per USD.

Mantan Menteri Koordinator Maritim, Rizal Ramli, turut mengomentari tren depresiasi nilai tukar Rupiah. Menurut dia, kondisi Rupiah masih belum mencapai titik aman. Sebab, kebijakan terutama dari pemerintah dianggap belum menjadi obat manjur.

"Belum ini baru permulaan. Kenapa? Karena langkah itu banyak yang di belakang kecenderungan. Ini baru awal di angka Rp 15.000. (Alasannya) Sederhana langkah-langkah Menkeu itu behind the curve," kata dia dalam diskusi di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu (26/9).

Salah satu kebijakan yang dikritik Rizal adalah penaikan tarif pajak terhadap 1.147 komoditas impor yang menurut dia tidak berdampak signifikan pada turunnya defisit neraca perdagangan. "Dengan langkah yang diambil oleh pemerintah, paling impor hanya berkurang USD 500 juta. Tidak berani menyentuh the top 10 dari impor Indonesia yang mencapai 67 persen,"

Lembaga yang menurut dia sangat tepat mengatasi depresiasi Rupiah adalah Bank Indonesia. Bank sentral hadir dengan kebijakan menaikkan suku bunga acuan secara bertahap.

"Satu-satunya yang ahead the curve hanya Bank Indonesia. Gubernur BI yang proaktif, di depan kecenderungan, karena menaikkan tingkat bunga duluan. Itu menolong memperbaiki ekspetasi," ujar dia.

Sayangnya, kebijakan BI tersebut seharusnya didukung oleh kebijakan dari sisi pemerintah. Sebab, upaya mengatasi depresiasi Rupiah tidak bisa hanya diserahkan pada bank sentral.

"Tapi (BI) kalau terlalu tinggi (menaikan suku bunga) NPL pasti makin tinggi. Peredaran kredit pasti berkurang, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tahun ini rencananya 5 persen bisa turun 4,5 persen. Harus diiringi dengan kebijakan di sektor riil, ekspor, impor, daya beli, dan kebijakan ekonomi secara umum. Ini tidak jalan, selalu ketinggalan," tegas Rizal. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini