Rupiah Bergerak Melemah Dibayangi Imbal Hasil Obligasi AS

Senin, 22 Maret 2021 10:28 Reporter : Siti Nur Azzura
Rupiah Bergerak Melemah Dibayangi Imbal Hasil Obligasi AS Rupiah. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah di perdagangan hari ini, Senin (22/3). Rupiah dibuka di Rp14.420 per USD, melemah dibanding penutupan di perdagangan minggu lalu di Rp14.407 per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah melanjutkan pelemahan usai pembukaan ke Rp14.448 per USD. Rupiah pun bergerak fluktuatif hingga kemudian menguat. Saat ini Rupiah menguat di Rp14.426 per USD.

Pengamat Pasar Uang Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova mengatakan, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah masih dibayangi imbal hasil (yield) obligasi AS. "Yield obligasi AS masih akan jadi perhatian pasar karena tidak ada antisipasi dari The Fed dan kekhawatiran inflasi di AS," kata Rully di Jakarta, dikutip Antara, Senin (22/3).

Dolar Amerika menguat terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan pekan lalu, mencapai tertinggi lebih dari satu minggu, setelah bank sentral AS menyatakan tidak akan memperpanjang keringanan sementara persyaratan modal bank, yang mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik dari level terendah hari itu.

Bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), mengumumkan tidak memperpanjang aturan sementara yang mengarahkan bank-bank besar menahan lebih banyak modal untuk aset mereka, seperti obligasi pemerintah yang berakhirnya pada 31 Maret. The Fed telah memberlakukan aturan untuk mendorong pinjaman bank ketika rumah tangga dan bisnis Amerika dirugikan oleh penguncian.

Indeks dolar terakhir naik 0,1 persen menjadi 91,906. Indeks dolar turun tajam setelah pengumuman The Fed tentang sikap kebijakan longgarnya pada Rabu (17/3).

Sedangkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik pada Jumat (19/3) setelah keputusan The Fed tentang aturan leverage (modal), tetapi tergelincir di sore hari menjadi 1,726 persen. Imbal hasil mencapai tertinggi dalam lebih dari satu tahun di 1,754 persen pada sesi sebelumnya.

The Fed berjanji minggu ini untuk melanjutkan stimulus moneter yang agresif, mengatakan lonjakan inflasi jangka pendek akan terbukti sementara di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi AS terkuat dalam hampir 40 tahun. "Sementara itu dari dalam negeri masih minim sentimen positif bagi rupiah," ujar Rully. [azz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini