KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Rayu petani tanam sawit lestari, Asian Agri kucurkan Rp 2,5 M

Selasa, 2 September 2014 14:15 Reporter : Ardyan Mohamad

Merdeka.com - PT Asian Agri, anak usaha Grup Konglomerasi Garuda Emas milik taipan Sukanto Tanoto menggelontorkan premium sharing atau kelebihan hasil ekspor senilai USD 220.000 atau setara Rp 2,5 miliar untuk empat perwakilan Koperasi Unit Desa (KUD) di Provinsi Riau dan Jambi.

Tujuannya agar petani plasma di lahan Asian Agri bersedia menanam bahan minyak sawit lestari (sustainable palm oil). Komoditas ini terbukti lebih diterima pasar internasional.

General Manager Asian Agri Freddy Wijaya mengatakan nominal premium itu meningkat dibanding tahun lalu. "Premium tersebut akan dikelola pengurus masing-masing KUD untuk peningkatan kapasitas petani, maupun kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat bagi petani," ujarnya dalam penyerahan simbolis premium pada petani di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (2/9).

Mitra KUD Asian Agri menaungi 20.000 petani plasma sawit. Luas lahan yang digarap mencapai 40.000 hektar di Riau dan Jambi. Freddy mengklaim, sejak 2011 pihaknya sudah aktif mengajak para petani mitra itu untuk menanam sawit lestari. Sebab, selain insentif berupa premium, para petani dapat keuntungan lebih.

"Petani lebih memiliki kepastian pasar, terutama di pasar eropa, dan biaya produksi mereka lebih optimum," kata Freddy.

Di sisi lain, perhitungan premium didapatkan dari nilai pemesanan buyer asing, yang sudah melampaui ongkos produksi. Kelebihan hasil pembelian itu dikembalikan pada petani.

Kendati demikian, Freddy mengatakan manajemen tidak menargetkan selalu ada peningkatan nominal saban tahun. Karena akan sangat bergantung pada hasil penjualan sawit lestari kepada mitra Asian Agri.

"Kami harap premium bisa meningkat setiap tahun, tentu ini sejalan dengan kondisi pasar sustainable palm oil. Yang pasti premium hanyalah insentif tambahan untuk petani," ucapnya.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi melihat, pemberian ini bisa menjadi stimulus bagi petani untuk lebih peduli menanam sawit lestari.

Definisi internasional atas minyak sawit ramah lingkungan ini misalnya dihasilkan tanpa membakar lahan, harus ditanam di area legal, tidak melakukan pelanggaran HAM atas para pekerja, serta wajib menjaga emisi gas rumah kaca dari proses produksinya. Negara-negara Eropa cenderung memilih sawit lestari karena produsennya dianggap tak merusak lingkungan.

“Kami memandang ini penting, karena satu ini adalah produk berkelanjutan yang dihasilkan para petani. Kedua ini adalah aspek sustainability-nya menggunakan sertifikat. Kemudian ketiga apresiasi premium diserahkan langsung kepada petaninya,” kata Bayu mengomentari langkah Asian Agri.

Indonesia masih menjadi negara pengekspor sawit terbesar sejagat. Nilai ekspor crude palm oil tahun lalu mencapai USD 16,5 triliun. Sedangkan khusus pada 2014, Kementerian Perdagangan berharap nilai ekspor itu bisa meningkat hingga USD 18,5 triliun. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Kelapa Sawit
  2. Petani
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.