PUPR dan Kementan Kerjasama Bangun Infrastruktur Air

Selasa, 3 Desember 2019 16:18 Reporter : Merdeka
PUPR dan Kementan Kerjasama Bangun Infrastruktur Air air bersih. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) terkait pembangunan infrastruktur ketahanan pangan. Kerjasama ini akan lebih ditekankan kepada pembangunan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) demi menjaga ketahanan pangan.

Penandatanganan MoU ini merupakan kelanjutan dari pertemuan Menteri Basuki dan Mentan SYL pada 8 November 2019, di mana kedua pihak pada saat itu sepakat secara informal melakukan kerjasama.

"MoU ini kita lebih sinergis, sehingga program ketahanan air bisa berjalan untuk mendukung ketahanan pangan," kata Menteri Basuki di Gedung Kementerian PUPR, Selasa (3/12).

Guna mempercepat proses penandatanganan, Basuki mengaku terpaksa mencoret Perjanjian Kerja Sama (PKS) antar dua direktur jenderal (dirjen) pada dua kementerian. Namun, dia belum merinci siapa saja dirjen yang dimaksud.

"Bahkan ada 1 pasal PKS antar kedua dirjen saya coret. Yowis langsung saja jalan. Cukup telepon-teleponan untuk melaksanakan MoU ini," ujar dia.

Sementara itu, Mentan Syahrul mengutarakan, Kementan dan Kementerian PUPR merupakan dua instansi yang tak bisa terpisahkan, lantaran saling terikat untuk bisa menyediakan infrastruktur air bagi masyarakat.

"Tak mungkin Kementan dan Kementerian PUPR jalan tanpa air dan infrastruktur. MoU ini memberikan ruang kepada kami menata lebih baik pertanian, dan bisa berakselerasi lebih kuat," ungkap dia.

1 dari 1 halaman

Krisis Pangan

Asia diramal akan menghadapi krisis pangan dalam 10 tahun ke depan. Untuk menghindari ini, Asia membutuhkan investasi hingga USD 800 miliar atau Rp11.000 triliun (USD 1= Rp14.100) untuk pangan. Ini mengacu pada laporan dari PwC, Rabobank, dan perusahaan investasi Temasek.

Asia Food Challenge Report, seperti mengutip laman CNBC, juga mengungkapkan bahwa pengeluaran makanan akan naik lebih dari dua kali lipat. Dari USD 4 triliun pada 2019, menjadi lebih dari USD 8 triliun pada tahun 2030.

"Asia tidak dapat memberi makan dirinya sendiri, dan perlu menginvestasikan USD 800 miliar lagi, dalam 10 tahun ke depan untuk menghasilkan lebih banyak makanan, dan memenuhi kebutuhan kawasan," menurut sebuah laporan.

Prediksi ini juga melihat populasi di Asia mengalami pertumbuhan, sehingga menuntut pangan yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan. Sementara itu, populasi Asia dapat tumbuh sekitar 250 juta pada sepuluh tahun mendatang, hal itu termasuk dengan Indonesia.

"Jika investasi ini tidak terwujud, kami percaya industri akan berjuang untuk memenuhi permintaan, menghasilkan hasil makanan yang lebih buruk untuk populasi Asia," menurut penulis laporan yang disusun oleh PwC, Rabobank, dan perusahaan investasi Singapura Temasek .

Jika tidak segera diantisipasi terkait pangan, maka akan berada dalam posisi yang buruk dalam 10 tahun mendatang. Dengan investasi USD 800 miliar, dapat digunakan untuk industri pangan pertanian Asia, serta untuk bidang teknologi dan inovasi, yang bisa menjadi jalan keluar mengatasi permasalahan pangan.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Asia Diramal Bakal Hadapi Krisis Pangan dalam 10 Tahun ke Depan
Seperti BBM, Bos Bulog Ingin Ada Beras Satu Harga
Stok Masih Cukup, Pemerintah Tak Akan Impor Pangan Hingga Akhir Tahun
Kemendag Terjunkan Tim Jaga Stabilitas Harga Pangan Jelang Natal dan Tahun Baru
Bos Bulog Beberkan Alasan Impor Daging Sapi dari Brasil Dibatalkan
Masuk Musim Tanam, Petrokimia Gresik Gencar Kampanye Pemupukan Berimbang

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini