Proyeksi dan Analisa Manulife pada Pasar Saham dan Obligasi Indonesia 2019

Selasa, 19 Maret 2019 13:36 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Proyeksi dan Analisa Manulife pada Pasar Saham dan Obligasi Indonesia 2019 Ilustrasi berinvestasi. ©2014 Merdeka.com/shutterstock.com/Nonwarit

Merdeka.com - Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Freddy Tedja, menyebutkan dua bulan pertama di 2019 pasar saham dan obligasi mengalami penguatan. Kondisi tersebut persis terjadi di tahun sebelumnya.

Akan tetapi, di 2018 lalu pasar saham sampai akhir tahun ditutup negatif. Lantas bagaimana kondisi pasar saham dan obligasi di tahun ini? "Menjawab pertanyaan, apakah di bulan Maret 2019, pasar akan turun sampai akhir tahun, mengikuti pola yang sama seperti tahun lalu? Kita tidak tahu," kata dia dalam keterangan resminya, Selasa (19/3).

Meski kondisi pasar tidak dapat dipastikan dengan tepat, dia menuturkan ada beberapa indikator dan sentimen yang dapat ditelaah dan dibandingkan di dua bulan pertama tahun ini dengan tahun 2018.

"Ada lima indikator yang bisa kita teliti. Pertama, adalah ekspektasi pertumbuhan ekonomi. Kedua, sentimen-sentimen yang ada di pasar finansial. Ketiga, kebijakan moneternya seperti apa. Keempat adalah valuasi aset di pasar finansial. Dan kelima adalah arus dana masuk dan keluar," ujarnya.

Dia menjelaskan, ekspektasi pertumbuhan ekonomi global di tahun lalu diproyeksikan terus menguat. Apalagi ditopang adanya pemotongan pajak di Amerika Serikat. Karena ekspektasi yang sangat tinggi, jika ada sesuatu kekecewaan kecil saja, membuat pasar bergejolak.

"Kebalikannya di tahun ini, ekspektasi pertumbuhan ekonomi rendah. Kita sudah tahu, bahwa pertumbuhan ekonomi global proyeksinya diturunkan, sudah dua sampai tiga kali. Jika sampai ada sedikit kejutan yang baik, hal ini bisa menopang pasar finansial. Itu perbedaannya. Ekspektasi tahun lalu cenderung ketinggian, sementara saat ini ekspektasi sudah berada di level yang sangat rendah," ujarnya.

Yang kedua adalah sentimen yang ada di pasar finansial. Tahun lalu di bulan Maret, berita-berita mengenai trade war atau konflik perdagangan antara AS dan China mulai muncul. Kebalikannya, di Maret ini berita yang tersebar adalah mengenai negosiasi untuk mencari solusi yang bahkan sudah semakin mengerucut. "Jadi sangat berbeda. Tahun lalu, eskalasi, saling berbalas pengenaan tarif, tidak ada yang mau mengalah. Sementara saat ini, kedua negara cenderung untuk mencari solusi." ungkapnya.

Kemudian yang ketiga dari sisi kebijakan moneter. Tahun lalu, The Fed sangat agresif dalam mengerek suku bunga acuannya yang naik hingga 4 kali. Hal tersebut otomatis membuat negara lain terpaksa menaikkan suku bunganya karena mata uangnya melemah, sementara tahun lalu dolar AS sangat menguat.

"Kebalikannya, di tahun ini The Fed sudah tidak seagresif tahun lalu. Proyeksi kenaikan tahun ini hanya naik satu sampai dua kali saja. Pada negara-negara lain, termasuk Indonesia, tekanan untuk menaikkan suku bunga sudah jauh berkurang. Apalagi mata uang rupiah saat ini sudah semakin stabil, berbeda dengan tahun lalu," ujarnya.

Keempat adalah valuasi aset dimana tahun lalu, ditengah optimisme pertumbuhan ekonomi global. Valuasi pasar saham Asia dan Indonesia, keduanya berada di level premium, yang cenderung lebih mahal di atas rata-rata lima tahun. Saat ini, valuasi pasar saham Asia dan Indonesia, keduanya berada di level yang lebih wajar, setelah sepanjang akhir tahun lalu juga mengalami penurunan.

"Kelima, pergerakan arus dana investor asing keluar dan masuk dari Indonesia. Sedikit mundur, yang terjadi di tahun 2017, IHSG naik hampir 20 persen (19,99 persen). Kondisi ini membuat, investor asing di awal 2018, dengan leluasa bisa keluar dari Indonesia, profit taking, ketika saat itu terjadi gonjang-ganjing trade war," ujarnya.

Namun di tahun ini hal sebaliknya yang terjadi. Dengan perbaikan arah negosiasi perdagangan AS dengan China. Kemudian kebijakan moneter yang tidak seketat tahun lalu, juga stabilitas nilai tukar di Asia dan Indonesia yang mulai terjadi, arahnya berbalik. Tahun ini, trennya adalah investor asing masuk kembali ke emerging market, ke Asia, termasuk juga ke Indonesia.

Tahun ini diperkirakan merupakan waktu yang aman untuk berinvestasi sebab semua faktor yang terjadi di tahun lalu tidak muncul di tahun 2019. "Semua pemicu penurunan yang terjadi di bulan Maret tahun lalu tidak terjadi di 2019. Saat ini boleh dibilang hampir semuanya sudah tidak ada. Kondisi (saat ini) sudah sangat berbeda, sangat berubah, jauh lebih kondusif. Selamat berinvestasi," tutupnya. [bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini