Presiden Jokowi ingatkan risiko perang dagang lebih besar dari krisis ekonomi 2008

Jumat, 12 Oktober 2018 09:47 Reporter : Merdeka
Jokowi hadiri pertemuan IMF-World Bank. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Presiden RI Joko Widodo pagi ini menjadi pembicara kunci dalam Annual Meeting Plenary di Nusa Dua, Bali. Dalam acara ini, Presiden Jokowi memanfaatkan momentum tersebut untuk mengingatkan kepada dunia mengenai resiko gejolak ekonomi global yang disebabkan oleh perang dagang.

"Tidak ada artinya kemenangan di tengah kehancuran. Saya tegaskan saat ini kita masuk sesi terakhir ekspansi ekonomi global yang penuh rivalitas. Bisa jadi, situasi perang dagang ini resikonya bisa lebih genting dibanding krisis global 10 tahun lalu," papar Presiden Jokowi di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10).

Presiden Jokowi memandang tidak ada keuntungan dari setiap peperangan. Kerusakan akan tetap terjadi terlepas pada akhirnya ada salah satu pihak yang memenangkan sebuah perang.

Maka dari itu, Presiden Jokowi menitipkan pesan kepada dunia untuk saling bekerja sama dalam menjaga kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat dunia daripada hanya mencari kemenangan semata.

Presiden Jokowi mengibaratkan apa yang terjadi saat ini seperti yang diceritakan dalam serial televisi Game of Thrones. Di mana para negara-negara besar tengah sibuk berperang tanpa memikirkan resiko yang terjadi dari perang itu.

Di sisi lain, banyak hal yang mengancam kelangsungan hidup masyarakat di dunia seperti resiko perubahan iklim, resiko penyakit sampah plastik, dan persoalan lingkungan lainnya.

"Makanya kita bertanya apakah sekarang saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi? Ataukah saat ini waktu tepat untuk kerja sama dan kolaborasi? Apakah kita terlalu sibuk dan bersaing menyerang satu sama lain sehingga kita tidak menyadari ancaman besar yang hadapi negara kaya atau miskin, oleh negara besar atau negara kecil?," ujarnya.

Dalam pertemuan IMF-Bank Dunia kali ini, Presiden Jokowi berharap mampu menghasilkan rekomendasi yang produktif, terutama dalam mencegah terjadinya perang dagang. "Saya harap dengan keindahan alam Bali dan kearifan lokalnya, bisa menjernihkan hati dan pikiran dalam memperbaiki kondisi finansial global," tutup dia.

Reporter: Ilyas Istianur Praditya

Sumber: Liputan6

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini