Presiden Jokowi Bongkar Kunci Ekonomi RI Selamat dari Gejolak Dunia

Jumat, 16 Agustus 2019 14:34 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Presiden Jokowi Bongkar Kunci Ekonomi RI Selamat dari Gejolak Dunia Jokowi Pidato di Sidang Tahunan MPR. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Presiden Jokowi menyampaikan reformasi fiskal menjadi kunci selamat Indonesia mengarungi gejolak perekonomian dunia. Salah satunya ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5 persen.

"Kita patut bersyukur bahwa di tengah gejolak perekonomian global, pembangunan ekonomi kita selama lima tahun ini telah menunjukkan capaian yang menggembirakan. Berbagai capaian tersebut tidak terlepas dari reformasi fiskal yang telah kita lakukan," ujarnya dalam pidato nota keuangan 2020 di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (16/8).

Presiden Jokowi menjabarkan pertumbuhan ekonomi Indonesia trennya meningkat dari 4,88 persen di 2015. Naik menjadi 5,17 persen di 2018, dan terakhir Semester I-2019 mencapai 5,06 persen.

Angka pengangguran menurun dari 5,81 persen pada Februari 2015, menjadi 5,01 persen pada Februari 2019. Penduduk miskin terus menurun dari 11,22 persen pada Maret 2015, menjadi 9,41 persen pada Maret 2019. "Terendah dalam sejarah NKRI," ucapnya.

Ketimpangan pendapatan terus menurun, ditunjukkan dengan semakin rendahnya Rasio Gini dari 0,408 pada Maret 2015, menjadi 0,382 pada Maret 2019.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik dari 69,55 di 2015, menjadi 71,39 di 2018, atau masuk dalam status tinggi. Selain itu, tidak ada lagi provinsi dengan tingkat IPM yang rendah. Logistic Performance Index (LPI) naik dari peringkat 53 dunia pada 2014, menjadi peringkat 46 dunia pada 2018.

Dalam Global Competitiveness Index, kualitas infrastruktur kita termasuk listrik dan air meningkat, dari peringkat 81 dunia pada 2015, ke peringkat 71 dunia pada 2018.

"Kita tidak lagi menggunakan pola money follows function, tetapi money follows program. Kita tidak lagi berorientasi pada proses dan output, tetapi pada impact dan outcome. Kita terus mengelola fiskal agar lebih sehat, lebih adil, dan menopang kemandirian," jelasnya.

Namun, Presiden Jokowi mengingatkan untuk tidak boleh lengah. Tantangan ekonomi ke depan semakin berat dan semakin kompleks, ekonomi dunia sedang mengalami ketidakpastian, beberapa emerging market sedang mengalami krisis, dan beberapa negara sedang mengalami pertumbuhan negatif.

"Kita juga menghadapi tantangan perang dagang. Depresiasi nilai mata uang beberapa negara seperti Yuan-Tiongkok dan Peso Argentina, membuat kita harus waspada," tutup Presiden Jokowi.

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini