Porak-poranda Ekonomi China Akibat Wabah Virus Corona, Banyak Usaha Terancam Bangkrut

Selasa, 18 Februari 2020 08:00 Reporter : Merdeka
Porak-poranda Ekonomi China Akibat Wabah Virus Corona, Banyak Usaha Terancam Bangkrut Korban Virus Corona. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Merebaknya wabah virus corona sangat menghebohkan dunia di awal tahun ini. Dampaknya sangat luar biasa di China, sebagai wilayah pertama ditemukannya virus corona. Bahkan, Indonesia juga harus merasakan dampaknya, seperti turunnya angka pariwisata dan penerbangan ke China harus disetop sementara.

Di China sendiri, dampaknya lebih parah. Banyak dari perusahaan kecil di China mencemaskan kondisi keuangan yang diakibatkan virus tersebut. Sebab, perusahaan dan usaha kecil menengah harus menutup lumbung uang mereka.

Dikutip pada laman CNN Bussines, menurut China International Capital Group mengutip survei yang dilakukan oleh akademisi dari Universitas Tsinghua dan Universitas Peking yang dilakukan pada 163 perusahaan dari semua ukuran di China, bahwa pada minggu ini, masih kurang dari setengah perusahaan sudah dapat kembali bekerja.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan bagi perusahaan di China yaitu sepertiga dari sekitar 1.000 perusahaan kecil dan menengah hanya bisa bertahan selama sebulan ke depan dengan uang tunai yang dimiliki. Hal itu membahayakan perekonomian China karena sekitar 30 juta usaha kecil dan menengah menyumbang lebih dari 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) China.

Pajak yang dibayarkan perusahaan kecil dan menengah juga mencakup lebih dari setengah pendapatan pemerintah, dan mereka mempekerjakan lebih dari 80 persen pekerja China.

Direktur Atlantis Research Institute yang berbasis di provinsi Shadong, Zhao Jian mengatakan jika wabah corona tidak segera berakhir, pengangguran akan tercipta pasca banyak perusahaan yang tutup sementara.

"Virus Corona dapat menjadi jerami yang menghancurkan punggung unta," ujar Jian, dikutip di Jakarta, Senin (17/2).

1 dari 2 halaman

Banyak Pebisnis Rugi

rugi rev1

Di sisi lain, dampak virus corona juga telah membuat pebisnis mengalami kerugian. Misalnya, pengusaha Beijing Wu Hai yang menulis di akun WeChatnya, mengatakan wabah corona dapat menghancurkan lebih dari 50 bar karoke yang dia jalankan.

Wu terancam mengalami kebangkrutan pada April 2020 mendatang jika aktifitas bisnis tetap dilumpuhkan. Kurangnya aktifitas bisnis juga menempatkan 1.500 pekerjanya dalam risiko kehilangan pekerjaan dan terancam akan bangkrut pada April 2020 jika tidak membuka bisnisnya kembali.

"Itu berarti, akan mati pada April, kecuali ada investor yang memberi (perusahaan MeiKTV milik Wu) uang," tulisnya.

Selain itu, Ketua Home Original Chicken Shu Congxuan mengatakan pada Sabtu lalu, perusahaan cepat sajinya sudah menutup lebih dari 400 toko, sejak wabah corona dimulai.

Dalam pos Weibo, Shu mengatakan bahwa perusahaannya dalam bahaya kehabisan uang tunai karena masih perlu membayar sewa dan karyawan. Namun, dia tetap mempertahankan karyawannya, meski harus menjual mobil dan rumahnya.

Selain itu, survei juga mengatakan bahwa 85 persen responden mengatakan, jika wabah terus berlangsung selama tiga bulan, maka perusahaan kecil dan menengah akan gulung tikar dan setelah 6 bulan, 90 persen perusahaan akan runtuh.

Menurut analisis di S&P Global Ratings mengatakan saat ini perusahaan China sedang bersiap untuk melunasi utang di 2020. Mengingat meningkatnya risiko terhadap ekonomi, perusahaan mungkin lebih sulit untuk meminjam dana.

Kemudian, peneliti S&P Global Ratings mengatakan, jika krisis kesehatan masyarakat stabil pada bulan depan, likuiditas masih akan berada di bawah tekanan, setidaknya pada kuartal pertama 2020, dan akan meningkatkan risiko gagal bayar bagi perusahaan China.

2 dari 2 halaman

Upaya Dilakukan

rev1

Dalam mengatasi pengangguran massal dari dampak virus Corona, beberapa perusahaan ternama di China, seperti JD.com (JD) dan Alibaba (BABA) berjanji akan menerima pekerja yang kehilangan tempat tinggal akibat wabah tersebut. JD bahkan akan membuka lebih dari 20.000 posisi baru, pada pekan ini.

Kemudian, pekan lalu, Bank Rakyat China juga memompa miliaran dolar ke pasar uang, guna menopang kemampuan bank dalam meminjamkan uang.

Di sisi lain, bank sentral juga menyiapkan dana khusus sebanyak 300 miliar yuan (USD 43 miliar) dalam memberikan pinjaman murah kepada perusahaan-perusahaan utama guna mencegah epidemi. Kementerian keuangan China juga mengumumkan subsidi pemerintah untuk membuat pinjaman lebih murah.

Selain itu, pemerintah di Beijing, Shanghai, dan beberapa provinsi juga meluncurkan langkah yang dianggap dapat meringankan beban perusahaan kecil, termasuk menawarkan subsidi agar dapat mengurangi sewa, dan memungkinkan perusahaan kecil menunda pembayaran kontribusi jaminan sosial atau pajak.

Namun, Wu menyampaikan, kebijakan itu, seperti jaminan sosial masih menjadi beban utama pengusaha. Kemudian dia juga meragukan efektivitas pinjaman preferensial yang dibuat bank sentral.

"Kami tidak memiliki aset tetap, sebagai jaminan. Kami tidak memiliki arus kas operasi, karena kami tidak dapat membuka bisnis sebagai jaminan," tulis Wu.

Reporter Magang : Nurul Fajriyah

[idr]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Virus Corona
  3. Krisis Ekonomi
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini